Kematian jasmani bagi orang Kristen nota bene adalah perpisahan sementara -->
  • Jelajahi

    Copyright © aesennews.com - Terarah Secara Aktual
    Best Viral Premium Blogger Templates

    available

    #'
    Loading...

    dlm artikel

    hr

    kris

    Iklan

    Close Ads Here
    -->
    Close Ads Here
    -->

    Kematian jasmani bagi orang Kristen nota bene adalah perpisahan sementara

    AESENNEWS.COM
    Saturday, February 18, 2023, 7:12:00 AM WIB Last Updated 2023-02-18T00:12:16Z
    AESENNEWS.COM, CIREBON - Pada umumnya semua orang mengetahui bahwa manusia harus takluk terhadap hukum alam yang merupakan implementasi dari ketetapan Allah. Dan salah satu hukum alam bagi manusia adalah siklus kehidupan manusia, di mana di dalamnya itu ada kelahiran, pertumbuhan (kanak-kanak, remaja, pemuda/i, dewasa, lansia), dan kematian.
         
    Tetapi khusus tentang kematian yang nota bene merupakan momok yang sangat menakutkan itu sehingga jika ada salah seorang anggota keluarga yang meninggal, maka kaum keluarga dan para sahabat yang ditinggalkan pasti akan merasakan dukacita yang begitu mendalam. Inilah juga perasaan keluarga dan handai-taulan bapak Ardi yang diungkapkan pada acara kata sambutan yang diadakan di Rumah Duka "Golden Gate"-Cirebon, Kamis, 16 Februari 2023 dari jam 10.00-11.00 WIB.

    "Papah adalah sosok yang paling hebat di mata saya. Beliau selalu ada buat saya, "kata Rena (19), putri sulungnya sambil menahan tangis. "Papah seorang yang bertanggung jawab terhadap keluarga, penuh perhatian dan pengertian juga tegas namun lembut. Beliau selalu mengingatkan saya untuk membaca Alkitab setiap hari selama 10 menit, "imbuhnya.

    "Bapak Ardi ini seorang yang giat bekerja tanpa mengenal lelah dan humoris, "ungkap Juwita, salah seorang rekannya di Lembaga PPM (Pusat Pengembangan Masyarakat)
    "Bapak Ardi dulu tinggal di kota Karawang. Lalu Beliau menelepon saya untuk pindah rumah dekat rumah saya. Selama bertetanggaan dengan pak Ardi, saya mengenal Beliau ini sebagai seorang yang baik dan tulus dalam membantu. Kepada orang lain Beliau ini bisa marah tetapi kepada saya tidak pernah, "tutur Niko, salah seorang teman dekatnya.

    Sebagai informasi bahwa yang dikenal umum dengan sebutan Ardi ini sebenarnya bernama asli Simeon Alfonsus Nomleni, seorang alumni STT SETIA. Dia berasal dari pulau Rote (NTT) yang bekerja di Lembaga PPM (Pusat Pengembangan Masyarakat). Lalu dia meninggal pada usia 47 tahun di Rumah Sakit Permata-Pilang (Cirebon) Selasa, 14 Februari 2023 jam 23.46 WIB dengan meninggalkan seorang isteri dan dua (2) orang anak.

    "Abang saya ini dirawat sampai tiga kali di Rumah Sakit Permata karena mengalami kadar darah rendah yang terus-menerus menurun secara drastis. Dia sempat dibawa pulang tetapi karena di rumah muntah-muntah, maka kami membawanya kembali ke Rumah Sakit Permata yang langsung masuk ruang UGD lalu di situlah dia menghembuskan nafasnya yang terakhir, "ucap Martin Nomleni tersendat-sendat karena menahan tangis.
         
    Adapun perasaan dukacita yang mendalam akibat salah seorang anggota keluarga telah dipanggil pulang oleh Allah Bapa di surga, adalah hal yang manusiawi dan lumrah saja menurut dua orang pendeta yang melayani dalam dua (2) acara ibadah dan hati serta jam yang berbeda tetapi di tempat yang sama berkaitan dengan meninggalnya Bapak Simeon Alfonsus Nomleni, yaitu Pdt. Yunus Noman, S. TH, M. PdK dalam ibadah penghiburan pada Rabu malam, 15 Februari 2023 jam 19.00 WIB sampai selesai di Rumah Duka "Golden Gate-Cirebon; dan Pdt. Berlinson Situmorang, S. TH, M. TH dalam ibadah tutup peti atau pelepasan jenazah di Rumah Duka "Golden Gate"-Cirebon pada Kamis, 16 Februari 2023 jam 11.00-12.00 WIB, yang selanjutnya nanti bakal dikebumikan di Tempat Pemakaman Kristen "Sasono Muliyo"-Cirebon.

    "Oleh karena Yesus adalah kebangkitan dan hidup, maka klaim-Nya ini menjadi jaminan yang pasti bagi kita yang percaya kepada-Nya bahwa kematian jasmani sama sekali bukanlah akhir hidup kita, melainkan titik permulaan bagi kita dibangkitkan oleh Yesus untuk beroleh hidup kekal di surga. Maka dari itu, tidak salah bagi kita untuk menangis asalkan jangan sejadi-jadinya dan berlarut-larut sepanjang hari sebagai ungkapan dukacita hati kita karena ada salah seorang anggota keluarga kita yang meninggal. Kita harus selalu mengingat bahwa kematian jasmani saudara kita yang percaya Yesus Kristus itu hanyalah perpisahan sementara di mana nanti kita pasti akan berjumpa lagi dengan dia di surga, "tegas Pdt. Yunus Noman, S. TH, M. PdK yang renungan khotbahnya diambil dari Yohanes 11:25-26: "Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup;
     barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Lalu hal senada juga disampaikan oleh Pdt. Berlinson Situmorang, S. TH, M. TH yang mendasarkan khotbahnya atas Ayub 1:18-22: "Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan." Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Dalam kesemuanya  itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut."

    "Berdasarkan atas apa yang dilakukan oleh Ayub dalam ayat 20 sebagai respons dari kabar kematian semua anaknya, yaitu Ayub berdiri lalu mengoyakkan jubahnya, dan mencukur kepalanya yang adalah kebiasaan zaman itu sebagai tanda perkabungan, maka demikianlah juga kita orang percaya yang hidup pada zaman sekarang diperbolehkan untuk mengekspresikan dukacita hati kita. Tetapi lebih dari pada itu, kita harus meneladani Ayub dalam hal iman atau keberserahan dirinya secara total kepada Tuhan yang ditunjukkan dalam pernyataannya itu: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
    Komentar

    Tampilkan

    No comments:

    Post a Comment

    Terkini