AESENEWS.COM, BANDUNG “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancangan mu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman YHWH.”
— Yesaya 55:8
Tahun 2019, anak kami lulus SMA, dan dari rangking nilai diterimalah di Universitas Swasta yg jaraknya hanya 7 km rumah, free tanpa Uang Gedung.
Namun sebenernya kami sudah merencanakan agar ia melanjutkan kuliah ke luar negeri. Persiapan sudah kami lakukan jauh-jauh hari — dari pendaftaran, tes bahasa, hingga wawancara online.
Puji Tuhan, hasilnya sungguh luar biasa! Anak kami diterima di 2 universitas luar negeri salah satunya dengan status beasiswa.
Kami sangat bahagia dan bersyukur, betapa tidak — anak yang kami nantikan selama delapan tahun lamanya, kini diterima di universitas luar negeri.
Kami segera melakukan pembayaran awal sebagai tanda komitmen orang tua.
Disisi lain, anak kami juga mengikuti tes masuk Universitas Negeri di Indonesia, yaitu di UI (Depok) dan ITS (Surabaya).
Dan ternyata, ia juga diterima di Universitas Indonesia (UI), Depok — yang jaraknya hanya sekitar 48 km dari rumah kami di BSD.
Antara Keinginan dan Rencana Tuhan
Di sinilah “peperangan batin” itu dimulai.
Di satu sisi, saya ingin anak kami belajar mandiri dan kuliah di luar negeri, sementara maminya masih merasa berat melepas anak tunggal kami jauh dari rumah.
Perasaan campur aduk — bangga, bahagia, tapi juga galau.
Anak kami pun ikut bingung antara memilih kuliah yg jauh tapi di Universitas International dan Global atau di Universitas Lokal yang dekat rumah tapi tenang di hati.
Dalam proses itu, kami menemukan bahwa di UI juga memiliki Program Internasional, bahkan dengan jurusan dan fakultas yang sama. Anak kami ikut tes dan kembali diterima.
Namun, karena biaya yang sudah dibayarkan di kelas reguler UI sebelumnya tidak bisa dialihkan ke kelas international, serta uang komitmen ke Universitas luar negeri yang juga sudah dibayarkan tidak bisa refund, akhirnya kami memutuskan untuk kuliah reguler di UI saja.
Di saat itu, kami sempat kecewa, rasanya seperti rencana besar yang kandas di tengah jalan. Tapi kami tetap berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan.
“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi YHWH yang menentukan arah langkahnya.”
— Amsal 16:9
Pandemi dan Pencerahan dari Tuhan
Tak lama berselang, saat semester kedua di mulai datanglah Pandemi COVID-19 di awal tahun 2020.
Seluruh kegiatan kuliah tatap muka dihentikan, dan semua mahasiswa dipulangkan ke rumah masing-masing, bahkan kost dan asramapun terkena sweeping untuk dikosongkan, kecuali mhswa luar pulau yg harus bbrp kali ganti transportasi, karena alat transportasi jg stop operasi.
Perkuliahan dijalankan secara Online selama empat semester (dua tahun) penuh.
Baru di semester ke-6 hingga ke-8, kuliah tatap muka dimulai kembali.
Saat itulah kami benar-benar tersadar.
Jika saja kami memaksakan kehendak agar anak kami tetap kuliah di luar negeri, mungkin kami akan mengalami kesulitan besar — bahkan ketakutan yang tak terbayangkan.
Karena kami juga mendengar cerita dari beberapa teman yang anaknya sudah kuliah di luar negeri pada saat itu, ada yang sampai dideportasi paksa pulang, ada yang terjebak di asrama, bahkan ada yang selama 4 tahun penuh kuliah Online tanpa pernah bertatap muka.
Dan kami hanya bisa berkata:
“Terima kasih, Tuhan. Engkau tahu apa yang terbaik sebelum kami mengetahuinya.”
Akhir yang Indah
Akhirnya, anak kami menyelesaikan kuliah tepat waktu — 4 tahun, dengan IPK 3,6/4.00.
Sungguh luar biasa! Semua berjalan indah, sesuai waktu dengan cara Tuhan.
Kami kini benar-benar memahami bahwa:
“Rencana Tuhan itu seringkali tidak enak di depan, tapi manis di belakang.”
“Kita tahu sekarang, bahwa Elohim turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.”
— Roma 8:28
Sekarang kami bisa melihat bagaimana setiap langkah yang dulu penuh air mata dan kebingungan, ternyata menjadi bagian dari rancangan besar yang indah dari Tuhan.
Kami belajar untuk tidak memaksakan kehendak, tetapi percaya penuh kepada pimpinan-Nya.
“Percayalah kepada YHWH dengan segenap hatimu, dan jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
— Amsal 3:5
Hikmah untuk Kita Semua
Dari pengalaman ini saya belajar bahwa:
Kita boleh berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan.
Kita boleh bermimpi besar, tapi biarlah Tuhan yang menulis skenarionya.
Kadang Tuhan menunda sesuatu bukan untuk menghukum, tapi untuk melindungi.
Sekarang saya bisa berkata dengan penuh keyakinan:
Tuhan itu sungguh baik, dan rancangan-Nya selalu yang terbaik.
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”
— Pengkhotbah 3:11
Amen. 🙏
Penyunting : Rt.Rgy
