AESENNEWS.COM,BANDUNG- Ada kalanya orang tua memberikan nasihat kepada anak dengan niat baik, tetapi nasihat itu justru dianggap sudah tidak relevan. “Sekarang sudah bukan zamannya.” “Sekarang sudah zaman teknologi.” “Kalau masih mengikuti pemikiran orang tua, kita tidak akan maju.” Memang benar, zaman berubah dan teknologi berkembang. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah: setiap keputusan memiliki akibat.
Orang tua mungkin tidak memahami semua teknologi yang kita gunakan hari ini. Mereka mungkin tidak mengikuti perkembangan zaman secepat generasi sekarang. Tetapi mereka telah melewati banyak pengalaman yang belum tentu pernah kita alami. Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap nasihat orang tua sebagai sesuatu yang kuno. Bisa jadi, di balik nasihat yang kita anggap tidak sesuai zaman, terdapat pengalaman hidup yang sedang berusaha mencegah kita melakukan kesalahan yang sama.
Sering kali seseorang baru menyadari kebenaran sebuah nasihat setelah mengalami sendiri akibatnya. Saat itulah muncul penyesalan, “Ternyata benar yang dikatakan orang tua.” Masalahnya, ada kesalahan yang masih bisa diperbaiki setelah terjadi, tetapi ada pula keputusan yang meninggalkan akibat panjang dan tidak mudah dikembalikan seperti semula.
Dalam kehidupan, kita sering menemukan orang yang mengambil keputusan hanya berdasarkan apa yang diinginkannya hari ini. Yang penting senang sekarang, yang penting bebas sekarang, yang penting masalah hari ini selesai. Tanpa sadar, muncul pola pikir, “gimana nanti?” Jalani saja dulu. Soal akibatnya, pikirkan belakangan.
Padahal, kehidupan tidak berhenti pada hari ini. Setiap pilihan yang kita ambil hari ini dapat menentukan keadaan kita di kemudian hari. Karena itu, sebelum mengambil keputusan, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya, “nanti gimana?”
Kalau saya memilih jalan ini, nanti gimana? Kalau saya terus melakukan kebiasaan ini, nanti gimana? Kalau saya mengabaikan nasihat yang baik, nanti gimana? Kalau keputusan saya hari ini memengaruhi keluarga, pekerjaan, kesehatan, hubungan, atau masa depan saya, nanti gimana?
Pertanyaan seperti ini bukan berarti kita harus hidup dalam ketakutan. Justru sebaliknya, itu menunjukkan bahwa kita sedang belajar bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri. Memikirkan masa depan bukan berarti kita harus mengetahui semuanya dengan pasti. Tidak ada seorang pun yang mampu mengetahui apa yang akan terjadi. Tetapi kita dapat mempertimbangkan kemungkinan, belajar dari pengalaman orang lain, dan memikirkan akibat sebelum mengambil keputusan.
Nasihat orang tua pun tidak berarti selalu benar. Mereka juga manusia yang bisa keliru. Namun, jangan menolak sebuah nasihat hanya karena datang dari generasi yang berbeda. Dengarkan, pikirkan, pertimbangkan, dan ambil yang baik. Sebab pengalaman orang lain kadang merupakan pelajaran yang bisa menyelamatkan kita dari kesalahan yang sebenarnya tidak perlu kita alami sendiri.
Teknologi boleh semakin maju. Dunia boleh semakin berubah. Cara hidup boleh semakin modern. Tetapi manusia tetap membutuhkan hikmat, pertimbangan, dan tanggung jawab.
Jangan hanya menjalani hidup dengan pikiran, “gimana nanti”. Belajarlah bertanya, “nanti gimana?” Sebab hari ini memang waktunya menjalani kehidupan, tetapi hari ini juga merupakan kesempatan untuk mempersiapkan apa yang akan kita hadapi di hari esok.
(rt / rgy)
