AESENN EWS.COM,BANDUNG - Hari ini kita memperingati 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Merah Putih berkibar di berbagai tempat. Kita mengenang perjuangan para pahlawan yang telah berkorban agar bangsa ini terbebas dari penjajahan.
Kemerdekaan adalah sesuatu yang sangat berharga. Setiap bangsa menghargai kebebasan, dan setiap manusia tentu ingin menjalani hidup tanpa berada di bawah tekanan atau penjajahan.
Namun, *ada bentuk penjajahan yang tidak terlihat.*
*Seseorang bisa hidup bebas secara lahiriah, tetapi hatinya masih terbelenggu.*
Terbelenggu oleh kepahitan yang tidak mau dilepaskan. Terbelenggu oleh luka masa lalu yang terus dibawa. Terbelenggu oleh iri hati karena selalu membandingkan diri dengan orang lain. Terbelenggu oleh amarah, kesombongan, keserakahan, ketakutan, atau keinginan untuk selalu mendapatkan pengakuan.
Yang lebih menyedihkan, terkadang kita sendiri yang mempertahankan belenggu itu.
Kita tahu bahwa memaafkan akan membuat hati lebih ringan, tetapi kita memilih terus mengingat kesalahan orang lain. Kita tahu bahwa bersyukur membawa ketenangan, tetapi kita terus menghitung apa yang tidak kita miliki. Kita tahu bahwa masa lalu tidak dapat diubah, tetapi kita masih membiarkannya mengendalikan kehidupan hari ini.
Kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas melakukan apa saja yang kita inginkan. Kemerdekaan sejati adalah ketika kita mampu mengendalikan diri dan tidak membiarkan hal-hal yang buruk menguasai hati serta pikiran kita.
Orang yang merdeka tidak harus membalas ketika disakiti. Ia mampu memilih untuk melepaskan dendam.
Ia tidak harus iri ketika melihat orang lain berhasil. Ia mampu menghargai keberhasilan orang lain tanpa merasa dirinya menjadi lebih rendah.
Ia tidak harus membuktikan bahwa dirinya lebih hebat. Ia mampu menerima dirinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Ia tidak hidup terus-menerus dalam penyesalan. Ia belajar dari masa lalu, tetapi tidak tinggal di dalamnya.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, jangan hanya melihat kebebasan yang ada di luar diri kita. Sesekali, lihatlah ke dalam hati dan bertanya dengan jujur:
*Apa yang masih membelenggu saya?*
Mungkin ada luka yang belum dilepaskan. Ada seseorang yang belum kita ampuni. Ada ketakutan yang terlalu lama dipelihara. Ada keinginan untuk diakui yang membuat kita tidak pernah merasa cukup.
Jika kita ingin benar-benar merdeka, mungkin sudah waktunya melepaskan semuanya sedikit demi sedikit.
Sebab hidup yang bebas bukan berarti hidup tanpa masalah. Hidup yang merdeka adalah ketika masalah tidak menjadi tuan atas hidup kita, masa lalu tidak terus mengendalikan langkah kita, dan perkataan orang lain tidak menentukan nilai diri kita.
*Jangan hanya menikmati kemerdekaan di luar diri. Belajarlah merdeka di dalam hati.*
Karena seseorang bisa bebas berjalan ke mana saja, tetapi tetap menjadi tawanan dari apa yang ada di dalam dirinya.
*Merdeka bukan berarti tidak memiliki belenggu. Merdeka berarti berani melepaskan belenggu yang selama ini mengikat hati.*
(rt / rgy)
