AESENNEWS.COM, BANDUNG — Alumni Jurusan Sipil Fakultas Keguruan Ilmu Teknik (FKIT) IKIP Bandung angkatan 1974 menggelar temu kangen di Kota Bandung, Rabu (21/1/2026). Kegiatan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus mengenang perjalanan pendidikan tinggi pada masa transisi sistem akademik nasional.
Angkatan 1974 tercatat sebagai salah satu angkatan dengan jumlah mahasiswa relatif besar, hampir mencapai 100 orang. Pada masa itu, pendidikan tinggi masih menggunakan sistem sarjana lima tahun, yang terdiri atas jenjang sarjana muda selama tiga tahun dan sarjana penuh selama dua tahun. Lulusan sarjana muda memperoleh gelar BA (Bachelor of Arts), sedangkan lulusan sarjana penuh menyandang gelar Drs (Doktorandus).
Penataan sistem pendidikan tinggi nasional yang dimulai sekitar tahun 1979 menghapus jenjang sarjana muda dan menyatukan pendidikan sarjana ke dalam program Strata 1 (S1) dengan masa studi sekitar empat tahun. Perubahan tersebut berdampak pada mahasiswa angkatan lama, termasuk angkatan 1974, yang sebagian menyelesaikan studi melalui sistem baru dan memperoleh gelar S.Pd.
“Angkatan kami berada pada masa peralihan. Ada yang lulus dengan sistem lama dan ada yang menyesuaikan dengan sistem S1,” ujar Robby G. Yahya, salah satu alumni.
FKIT IKIP Bandung selanjutnya berkembang menjadi Fakultas Pendidikan Teknik dan Kejuruan (FPTK), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Untuk menjaga komunikasi dan silaturahmi, alumni Sipil angkatan 1974 membentuk wadah bernama KETUPAT (Keluarga Tujuh Empat).
Dalam temu kangen kali ini, delapan alumni yang berdomisili di Bandung dan sekitarnya hadir, yaitu Budi Ramdhan, Amien Soebagiyo, Yogi Suprayogi, Yayat Ruhiyat, Carsiman, Tugiman Hadi Saputro, Kasweri, dan Robby G. Yahya. Sejumlah alumni lainnya telah meninggal dunia.
“Kami semakin menyadari pentingnya menjaga silaturahmi, mengingat usia dan kondisi yang tidak lagi muda,” kata Amien Soebagiyo.
Rangkaian kegiatan diisi dengan berkeliling Kota Bandung menggunakan Bandros (Bandung Tour on Bus), melintasi sejumlah kawasan bersejarah seperti Asia Afrika, Braga, Gedung Merdeka, dan Gedung Sate. Kegiatan dilanjutkan dengan makan siang dan perbincangan ringan di kawasan kuliner Kantor Pos Bandung yang telah direvitalisasi.
Pertemuan ditutup dengan foto bersama dan kesepakatan untuk kembali menggelar kegiatan serupa pada waktu mendatang.
Reporter (rgy)
