AESENNEWS.COM, BANDUNG -“Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”
Kita hidup di tengah budaya yang terus menekan tombol “lebih.”
Lebih tinggi.
Lebih cepat.
Lebih dikenal.
Lebih dipuji.
Tanpa sadar, jiwa kita ikut berlari. Kita mengukur diri dari pencapaian orang lain. Kita menilai nilai diri dari angka, posisi, dan pengakuan. Dan setiap kali merasa tertinggal, hati kita berbisik, “Aku belum cukup.”
Namun dari balik penjara, seorang rasul menulis sesuatu yang melawan arus dunia. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi—yang kita kenal sebagai Surat Paulus kepada Jemaat di Filipi—Paulus berkata, “Aku telah belajar mencukupkan diri.”
Ia tidak berkata, “Aku selalu cukup.”
Ia tidak berkata, “Aku tidak pernah bergumul.”
Ia berkata, aku telah belajar.
Artinya, rasa cukup bukan datang dengan sendirinya. Ia dibentuk. Ditempa. Diuji. Dilatih melalui musim kekurangan dan kelimpahan.
Paulus mengenal lapar. Ia tahu rasanya ditolak. Ia pernah kehilangan kebebasan. Namun di tengah semua itu, ia menemukan satu kebenaran: kecukupan tidak bergantung pada keadaan, tetapi pada hubungan dengan Kristus.
Cukup bukan berarti semua impian tercapai.
Cukup bukan berarti hidup tanpa target.
Cukup berarti hati tidak lagi dikendalikan oleh rasa kurang.
Ada orang yang hidup sederhana, tetapi penuh damai.
Ada orang yang hidup berlimpah, tetapi tidak pernah tenang.
Perbedaannya bukan pada jumlah yang dimiliki, melainkan pada sumber yang diandalkan.
Jika sumber kekuatan kita adalah pencapaian, maka kegagalan akan meruntuhkan kita.
Jika sumber harga diri kita adalah pengakuan, maka penolakan akan melukai sangat dalam.
Tetapi jika sumber hidup kita adalah Kristus, maka badai keadaan tidak mudah menggoyahkan jiwa.
Belajar cukup berarti:
Berhenti membandingkan diri.
Menghitung berkat lebih dari kekurangan.
Mempercayai bahwa Tuhan tidak pernah salah memberi takaran.
Baik dalam kekurangan maupun kelimpahan, keduanya adalah ruang latihan iman.
Kekurangan melatih kita bersandar.
Kelimpahan melatih kita rendah hati.
Dan di antara dua musim itu, Tuhan sedang membentuk hati yang dewasa.
Hari ini, mungkin keadaan belum berubah.
Mungkin doa belum terjawab seperti yang kita harapkan.
Tetapi jika hati kita tertambat pada Kristus, kita tidak lagi hidup dari rasa takut kehilangan. Kita hidup dari keyakinan bahwa Dia cukup.
Pada akhirnya, kualitas hidup rohani tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, tetapi oleh seberapa dalam kita mengenal Dia.
Dan ketika Kristus menjadi pusat, kita berhenti berkata, “Aku kurang.”
Kita mulai berkata dengan tenang dan teguh,
“Aku cukup—karena Dia cukup.”
Penulis : Kefas Hervin Devananda
Editor : rgy
