AESENNEWS.COM,BOGOR- Ada satu suara halus dalam diri yang sering menipu kita: “Pulang nanti saja… kalau sudah lebih baik.”Bacaan -Lukas 15;11-24
Kita menunggu momen yang terasa “cukup layak.” Menunggu perubahan total. Menunggu hati yang lebih bersih.
Akibatnya, kita terus menunda. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena merasa belum pantas.
Padahal justru di situlah letak kesalahannya.
Anak itu tidak kembali sebagai pribadi yang berhasil. Ia pulang dalam keadaan hancur.
Segalanya sudah habis. Hidupnya berantakan. Harga dirinya runtuh.
Ia bahkan sampai berada di titik terendah, merindukan makanan yang tidak layak dimakan manusia.
Di titik itu, ia sadar: ia tidak layak.
Namun anehnya, justru kesadaran itulah yang menggerakkannya untuk pulang.
Seringkali, yang membuat seseorang menjauh dari Elohim bukan karena tidak percaya, melainkan karena merasa belum siap.
Masih bergumul dengan dosa. Masih terikat kebiasaan lama. Masih merasa hidupnya belum “rapi.”
Lalu berkata dalam hati: “Nanti saja… kalau sudah berubah.”
Padahal jika harus menunggu layak, tidak akan pernah ada yang benar-benar kembali.
Bagian yang paling mengejutkan dari kisah ini adalah respons sang bapa.
Ia tidak menuntut perbaikan terlebih dahulu. Ia tidak meminta pembuktian. Ia tidak mengingatkan sejauh apa anak itu telah jatuh.
Yang ia lakukan sederhana, namun sangat dalam maknanya: ia berlari, memeluk, dan memulihkan.
Tanpa syarat. Tanpa penilaian. Tanpa menunggu kelayakan.
Mengapa anugerah sering sulit diterima?
Karena anugerah meruntuhkan rasa bangga dalam diri.
Anugerah berkata: “Kamu diterima bukan karena kamu pantas, tetapi karena Aku mengasihi.”
Dan itu tidak mudah diterima, terutama bagi mereka yang masih ingin merasa berperan dalam keselamatan dirinya.
Yeshua tidak datang untuk orang yang sudah benar. Ia datang untuk mereka yang sadar bahwa dirinya membutuhkan pertolongan.
Artinya: kita tidak datang kepada Elohim membawa kelayakan, melainkan membawa kebutuhan.
Dan justru di sanalah anugerah bekerja dengan nyata.
“Wong sing rumangsa bisa, bakal kalah karo sing gelem sinau.” (Orang yang merasa sudah mampu akan kalah dengan yang mau belajar.)
Dalam kehidupan rohani pun demikian: mereka yang merasa sudah cukup baik, seringkali justru paling jauh dari anugerah.
RENUNGAN MENOHOK:
Yang menjauhkan kita dari Elohim bukan semata dosa, tetapi rasa “cukup baik” yang membuat kita tidak merasa perlu kembali.
Jika hari ini Anda merasa:
tidak layak
terlalu jauh
terlalu kotor
terlalu gagal
jangan jadikan itu alasan untuk menjauh.
Justru itu alasan terbaik untuk pulang.
Karena Elohim tidak sedang mencari orang yang sempurna.
Ia sedang menanti mereka yang mau kembali.
Anda tidak perlu layak untuk pulang— Anda hanya perlu mengambil langkah untuk pulang.
Penulis : Kefas Hervin Devananda
Editor : èrgèyè
