AESENNEWS.COM,JAKARTA- Pernahkah kita bertanya mengapa sampai hari ini banyak orang masih berkata, "Beli odol," padahal yang dimaksud adalah pasta gigi? Odol sebenarnya hanyalah sebuah merek yang dahulu sangat dikenal.
Begitu juga ketika seseorang berkata, "Beli Aqua," padahal yang dibeli adalah air minum merek lain. Di beberapa daerah, angkutan umum pernah disebut "Colt" atau "Daihatsu", padahal itu hanyalah merek kendaraan yang banyak digunakan sebagai angkutan umum pada masa itu.
Lama-kelamaan, orang tidak lagi membedakan antara nama merek dan nama bendanya. Istilah yang kurang tepat terus diulang, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, hingga akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang benar.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal seperti ini mungkin tidak membawa akibat besar. Tetapi bagaimana jika pola yang sama terjadi dalam kehidupan kita?
Bagaimana jika sebuah kebiasaan, pandangan, atau tradisi diterima sebagai kebenaran hanya karena sudah dilakukan sejak lama? Bagaimana jika kita mempercayainya bukan karena pernah memikirkannya secara kritis, melainkan hanya karena, "Dari dulu juga begitu."
Inilah yang perlu kita waspadai.
Sesuatu yang sudah lama dilakukan belum tentu benar. Sesuatu yang dilakukan banyak orang belum tentu tepat. Dan sesuatu yang diwariskan dari generasi ke generasi tidak otomatis menjadi kebenaran hanya karena usianya panjang.
Tradisi dan kebiasaan tentu tidak selalu buruk. Banyak tradisi mengandung nilai yang baik dan patut dipertahankan. Namun, kita perlu memiliki keberanian untuk membedakan antara sesuatu yang benar-benar bernilai dan sesuatu yang hanya terus dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan.
Karena itu, jangan takut untuk bertanya, "Mengapa kita melakukan ini?" Jangan takut memeriksa kembali keyakinan yang selama ini kita pegang. Jangan pula merasa gengsi untuk mengakui bahwa sesuatu yang dahulu kita yakini ternyata perlu diperbaiki.
Mempertanyakan bukan berarti memberontak. Menguji bukan berarti tidak menghargai. Justru orang yang mau menguji keyakinannya menunjukkan bahwa ia menghargai kebenaran.
Sebab kebenaran tidak perlu takut diperiksa. Sebaliknya, kesalahan sering kali bertahan karena orang takut mempertanyakannya.
Kesalahan yang diulang ribuan kali tidak akan berubah menjadi kebenaran. Sebaliknya, kebenaran tetaplah kebenaran, sekalipun hanya sedikit orang yang berani menerimanya.
Jangan hanya menjadi pewaris kebiasaan. Jadilah pribadi yang mau belajar, berpikir, menguji, dan mencari kebenaran dengan hati yang terbuka.
Karena hidup yang bijaksana bukanlah hidup yang sekadar mengikuti apa yang sudah dilakukan banyak orang, melainkan hidup yang berani bertanya:
"Apakah yang selama ini saya lakukan benar-benar benar, atau hanya karena saya sudah terbiasa melakukannya?"
(rt / rgy)
