AESENNEWS.COM, BANDUNG,-Sebuah pohon tidak menjadi kuat hanya karena angin di sekitarnya berubah. Ia menjadi kuat karena akarnya terus bertumbuh. Demikian juga manusia. Perubahan yang paling berarti tidak selalu dimulai dari keadaan di luar diri, tetapi dari sesuatu yang bertumbuh di dalam diri.
Sering kali kita berharap orang lain berubah. Kita ingin keadaan menjadi lebih baik, ingin orang memahami kita, menghargai kita, atau memperlakukan kita sebagaimana yang kita harapkan. Kita juga berharap lingkungan berubah agar hidup terasa lebih mudah.
Namun, tanpa sadar, kita bisa lupa melihat ke dalam diri sendiri.
Padahal, mungkin bukan dunia di sekitar kita yang pertama-tama perlu berubah, melainkan cara kita melihat sesuatu, cara kita berpikir, berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.
Mengenal diri sendiri bukanlah sesuatu yang selalu menyenangkan. Ada sisi diri yang ingin kita sembunyikan. Ada kesalahan yang sulit kita akui. Ada luka yang selama ini kita tutupi dengan kemarahan. Ada kesombongan yang kita anggap sebagai keberanian. Ada ketakutan yang kita sembunyikan di balik sikap seolah-olah kita baik-baik saja.
Namun, justru ketika kita berani melihat diri sendiri dengan jujur, proses perubahan mulai terjadi.
Kita mulai menyadari bahwa tidak semua masalah berasal dari orang lain. Tidak semua kekecewaan disebabkan oleh keadaan. Terkadang, cara kita merespons sebuah persoalan justru ikut menentukan seberapa berat persoalan itu kita rasakan.
Mengenal diri berarti berani bertanya kepada diri sendiri: Apa yang perlu saya perbaiki? Apa yang harus saya lepaskan? Kebiasaan apa yang selama ini menghambat saya? Sikap apa yang mungkin telah melukai orang lain? Dan bagian mana dari diri saya yang masih perlu bertumbuh?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak mudah dijawab. Tetapi keberanian untuk menghadapinya adalah bagian dari kedewasaan.
Kita tidak harus menjadi sempurna untuk berubah. Kita hanya perlu cukup jujur untuk mengakui bahwa masih ada hal-hal dalam diri yang perlu diperbaiki.
Mungkin dunia tidak berubah. Orang lain tetap seperti sebelumnya. Keadaan juga belum tentu menjadi lebih mudah. Tetapi ketika cara kita melihat dan menghadapi kehidupan berubah, pengalaman kita terhadap keadaan pun dapat berubah.
Pada akhirnya, perubahan yang paling indah bukanlah ketika dunia akhirnya mengikuti keinginan kita, melainkan ketika kita menjadi pribadi yang lebih matang karena berani mengenal diri sendiri.
Sebab terkadang, perjalanan untuk memperbaiki hidup bukan dimulai dengan mengubah dunia, tetapi dengan keberanian untuk bercermin dan berkata:
“Ada sesuatu dalam diri saya yang perlu saya ubah.”
Dan dari keberanian kecil itulah, perubahan besar bisa dimulai.
(rt / rgy)
