Dalam kegiatan tersebut, Asep mendapat kesempatan menyampaikan sambutan sekaligus mengungkap sejarah terbentuknya organisasi mahasiswa hukum yang kini dikenal sebagai HIMA Hukum UT Bandung.
Dalam sambutannya, Asep menjelaskan bahwa Gerakan Mahasiswa dan Aktivis Hukum Universitas Terbuka Bandung (GEMA-HUTBA) merupakan cikal bakal lahirnya HIMA Hukum UT Bandung. Organisasi tersebut pertama kali dibentuk pada 2 April 2023 oleh 11 orang pendiri, termasuk dirinya yang dipercaya sebagai Ketua Umum pertama.
Menurut Asep, pembentukan GEMA-HUTBA berangkat dari semangat menghadirkan wadah organisasi bagi mahasiswa hukum Universitas Terbuka di Bandung. Pada momentum ikrar pembentukan yang berlangsung di Mokopi Garden, Bandung, nama Gerakan Mahasiswa dan Aktivis Hukum Universitas Terbuka Bandung diusung dan mendapat persetujuan dari 60 mahasiswa.
“GEMA-HUTBA adalah cikal bakal terbentuknya HIMA ini. Pada 2 April 2023, organisasi ini pertama kali dibentuk oleh 11 orang, termasuk saya yang dipercayakan sebagai Ketua Umum pertama,” ungkap Asep.
Setelah terbentuk, GEMA-HUTBA mulai melakukan audiensi dengan pihak kampus serta membangun komunikasi dengan mahasiswa. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkenalkan keberadaan organisasi sekaligus menghadirkan ruang bagi mahasiswa hukum untuk berorganisasi, berdiskusi, menyampaikan aspirasi, dan mengembangkan kapasitas diri.
Upaya tersebut mendapat respons positif dari mahasiswa. GEMA-HUTBA kemudian menjadi wadah yang mempertemukan semangat dan kepentingan mahasiswa hukum di lingkungan Universitas Terbuka Bandung.
Dari GEMA-HUTBA Menjadi HIMA Hukum UT Bandung
Seiring berjalannya waktu, Asep menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Encep Ridwan sebagai Ketua Umum berikutnya. Pergantian kepemimpinan tersebut menjadi bagian dari perjalanan organisasi dalam menjaga keberlanjutan gerakan mahasiswa hukum.
Di bawah kepemimpinan Encep Ridwan, GEMA-HUTBA mengalami transformasi melalui perubahan nama menjadi HIMA Hukum UT Bandung. Perubahan tersebut menandai babak baru dalam perjalanan organisasi, seiring dengan perkembangan organisasi kemahasiswaan di lingkungan Universitas Terbuka Bandung.
Dengan demikian, nama HIMA Hukum UT Bandung yang digunakan saat ini memiliki keterkaitan historis dengan perjuangan awal para pendiri GEMA-HUTBA pada 2023.
Setahun setelah kepemimpinan Encep Ridwan, estafet kepemimpinan kembali berganti. Riyan Darusallam kemudian dipercaya melanjutkan kepemimpinan HIMA Hukum UT Bandung dan memimpin organisasi tersebut hingga saat ini.
Rangkaian pergantian kepemimpinan tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan organisasi tidak hanya ditentukan oleh gagasan para pendiri, tetapi juga oleh kemampuan setiap generasi untuk meneruskan, mengembangkan, dan menyesuaikan organisasi dengan kebutuhan mahasiswa.
Asep Berharap HIMA Hukum UT Bandung Terus Melahirkan Pemimpin Baru
Sebagai Ketua Umum pertama yang menyaksikan perjalanan organisasi sejak awal pembentukannya, Asep menyampaikan harapan agar Riyan Darusallam dapat menjalankan kepemimpinannya dengan baik dan membawa HIMA Hukum UT Bandung terus berkembang dalam beberapa waktu ke depan.
Ia juga berharap kepemimpinan Riyan dapat berlangsung dengan baik hingga tiba waktunya organisasi melahirkan penerus baru yang siap mengambil tanggung jawab dan melanjutkan perjuangan HIMA Hukum UT Bandung.
Harapan tersebut menjadi penegasan bahwa regenerasi merupakan bagian penting dari kehidupan organisasi mahasiswa. Pergantian kepemimpinan bukan sekadar perubahan posisi, melainkan proses meneruskan nilai, memperkuat fondasi organisasi, dan memastikan perjuangan yang telah dirintis tidak berhenti pada satu generasi.
Bagi Asep, perjalanan dari GEMA-HUTBA hingga menjadi HIMA Hukum UT Bandung merupakan bagian penting dari sejarah kolektif mahasiswa hukum Universitas Terbuka Bandung. Organisasi yang dibangun melalui semangat kebersamaan tersebut diharapkan terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun lingkungan akademik.
Pesan Asep: Jadilah Ikan Besar di Kolam yang Kecil
Selain menyampaikan sejarah organisasi, Asep juga memberikan pesan motivasi kepada mahasiswa hukum agar berani mengembangkan potensi, mengambil peran, dan memberikan kontribusi nyata melalui organisasi.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan sebuah ungkapan yang menjadi penekanan pesannya:
“Jadilah ikan besar di kolam yang kecil, jangan jadi ikan kecil di kolam yang besar.”
Ungkapan tersebut menggambarkan pentingnya membangun kapasitas diri, memaksimalkan kesempatan, serta menjadi individu yang mampu memberikan pengaruh positif di lingkungan tempatnya bertumbuh.
Pesan itu juga dapat dimaknai sebagai ajakan kepada mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi anggota organisasi, tetapi turut mengambil peran aktif dalam membangun gagasan, memperjuangkan aspirasi, dan menciptakan perubahan.
Rapat pengesahan AD/ART menjadi salah satu agenda penting dalam perjalanan HIMA Hukum UT Bandung. Pengesahan aturan dasar dan aturan rumah tangga diharapkan menjadi landasan bagi tata kelola organisasi, pelaksanaan program kerja, serta keberlanjutan kepemimpinan di masa mendatang.
Kehadiran Asep dalam agenda tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah awal pembentukan GEMA-HUTBA, transformasinya menjadi HIMA Hukum UT Bandung, serta perjalanan regenerasi kepemimpinan yang terus berlangsung.
Sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa organisasi yang kuat dibangun melalui gagasan, keberanian untuk memulai, kerja kolektif, dan kesediaan setiap generasi untuk meneruskan perjuangan generasi sebelumnya.
RED/AS


