-->

popunder

no-style

Dedikasi dan Loyalitas Filipus Karyadi dalam Pelayanan

@Aesennewsbandung
Sunday, November 1, 2026, 11:37:00 PM WIB Last Updated 2026-11-01T16:46:55Z


 

AESENNEWS.COM - BANDUNG Nama yang diberikan ayahnya adalah Karyadi. Kemudian pada waktu dia studi di STT Injili Indonesia cabang Cirebon di depan nama itu ditambahkan Filipus oleh mendiang Bapak Pdt. R. F. Soenaryo sebagai nama baptisan yang diambil dari nama Filipus yang adalah salah seorang dari antara tujuh diaken dan pemberita Injil kepada seorang sida-sida dari Etiophia.


Setelah menyelesaikan studi di STT Injili Indonesia selama tiga tahun dengan mengambil Ijazah Theologia (IT), Filipus Karyadi pun mendapat rekomendasi dari abang iparnya bernama Bapak Pdt. Matius Suwarsana untuk membantu pelayanan abang kandungnya yang kedua bernama Bapak Pdt. Yohanes Sudarman, S. Th di Gereja GIDI Moria - Gandoang, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor - Jawa Barat.


Kemudian bersama-sama dengan abangnya yang kelima bernama Yohanes Sukarsa, dia saling bahu-membahu membantu pekerjaan-pekerjaan rumah tangga di rumah Bapak Pdt. Yohanes Sudarman, S. Th sekaligus melayani sebagai koster gereja dan guru Sekolah Minggu di gereja tersebut. Dan beberapa waktu selanjutnya oleh Bapak Pdt. Yohanes Sudarman, S. Th, mereka berdua ditugaskan untuk membuka pelayanan sekolah minggu di dua tempat berbeda. Yohanes Sukarsa di rumah Bapak Edi Pallo di Perumahan Puri Cileungsi dan Filipus Karyadi di rumah Bapak Marpaung Jembatan Tiga Perumahan Rawa Lumbu - Bekasi.


Setiap minggu pagi jam 06.00 Wib, Filipus Karyadi berangkat ke sana dengan dua kali naik kendaraan umum. Dari Gereja GIDI Moria di Gandoang naik bis kota tiga perempat hingga tiba di Perempatan Rawa Panjang. Sesudah itu baru naik lagi angkot jurusan Bekasi - Rawa Lumbu lalu turun di Jembatan Tiga Rawa Lumbu. Dan untuk mencapai rumah Bapak Marpaung itu, dia harus berjalan kaki sejauh kira-kira 500 m.


Adapun pelayanan sekolah minggu Filipus Karyadi dimulai dengan tiga anak dari Bapak Marpaung sendiri yang bernama Gebo Marpaung, Veronika Marpaung, dan Verawati Marpaung yang ketiga-tiganya masih duduk di bangku SD. Tetapi yang aktif rajin sekolah minggu adalah kedua anak perempuan Bapak Marpaung, sedangkan Gebo Marpaung hanya dua atau tiga kali saja ikut sekolah minggu. Meskipun demikian Filipus Karyadi tetap setia melayani mereka berdua hingga menginjak pada bulan ketiga diberitahukanlah oleh Bapak Pdt. Yohanes Sudarman, S. Th bahwa ada juga anak-anak lainnya dari keluarga Bapak Maju Pakpahan yang berjumlah empat anak: Linsari, Rotua, si kembar Ani dan Ana di Leuwi Sari dan keluarga Manulang sebanyak empat anak juga di Pangkalan Pasir.


Informasi tersebut pun segera ditindaklanjuti oleh Filipus Karyadi pada hari Minggu berikutnya. Jika sebelumnya dari Gereja GIDI Moria di Gandoang biasa naik bis kota tiga perempat lalu turun di Perempatan Rawa Panjang, maka minggu itu menjadi awal untuk turun sesudah perempatan tersebut tepat di pinggir jalan rumah keluarga Bapak Manulang di Pangkalan Pasir. Dan dari situ barulah dia bersama-sama dengan anak-anak itu naik becak ke rumah Bapak Marpaung di Jembatan Tiga Rawa Lumbu. Setelah sekolah minggu usai, dia juga kemudian mengantar mereka pulang ke rumah masing-masing dengan naik becak. Inilah pelayanan rutin Filipus Karyadi setiap minggu, yakni: menjemput, mengajar anak-anak sekolah minggu, dan mengantar mereka pulang ke rumah masing-masing.


Sesudah mengantar mereka pulang, Filipus Karyadi biasa melanjutkan pelayanan dalam bidang perkunjungan dengan jalan kaki kepada keluarga-keluarga Batak di dalam dan di luar Perumahan Rawa Lumbu tersebut hingga jam 21.00 atau 22.00 Wib. Dan Puji Tuhan, perjuangannya itu membuahkan hasil di mana Tuhan menambahkan jumlah anak sekolah minggu yang tadinya sepuluh anak bertambah menjadi 30 anak. SOLI DEO GLORIA.


Reporter: Filipus Karyadi, S. Th    



Komentar

Tampilkan

  • Dedikasi dan Loyalitas Filipus Karyadi dalam Pelayanan
  • 0

Terkini

layang

.

Topik Populer

Iklan

Close x