-->

popunder

no-style

Partai Setara Indonesia: Mencari Etika yang Hilang dalam Politik Nasional*Ketika Politik Kehilangan Nurani*

Tuesday, January 6, 2026, 6:39:00 PM WIB Last Updated 2026-01-06T11:39:44Z
AESENNEWS.COM, BANDUNG- Di tengah hiruk-pikuk politik nasional yang kian bising oleh transaksi kekuasaan, lahir sebuah partai yang memilih berjalan di jalur berbeda. *Partai Setara Indonesia (PASTI)* hadir bukan sekadar menambah deretan partai politik, melainkan membawa sebuah kegelisahan: ke mana arah etika politik bangsa ini bergerak?

PASTI lahir dari kesadaran bahwa politik, yang seharusnya menjadi alat pelayanan publik, telah terlalu lama dipersempit menjadi panggung kompromi dan kepentingan jangka pendek. Dalam atmosfer seperti itu, kehadiran partai baru sering disambut skeptis. Namun PASTI mencoba mematahkan stigma tersebut dengan menempatkan *nilai moral dan kesetaraan manusia* sebagai titik berangkat perjuangannya.

 *Latar Kegelisahan dan Sebuah Jawaban* 

Kekecewaan publik terhadap praktik politik transaksional menjadi lahan subur bagi lahirnya gerakan baru. Politik dianggap kehilangan orientasi etik dan keberpihakan pada rakyat kecil. Di sinilah PASTI memosisikan diri—bukan sebagai partai yang menjanjikan solusi instan, melainkan sebagai gerakan yang mengajak publik kembali memikirkan *hakikat politik itu sendiri.* 

Bagi PASTI, perubahan tidak dimulai dari strategi elektoral, tetapi dari cara pandang: bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan tujuan.

 *Sosok di Balik Arah: Pdt. Ruyandi Hutasoit* 

Sorotan publik pun tertuju pada sosok *Pdt. Ruyandi Hutasoit,* yang dipercaya memimpin partai ini. Ia bukan figur asing dalam lanskap politik Indonesia. Rekam jejaknya memperlihatkan perjumpaan panjang antara dunia pelayanan rohani, advokasi sosial, dan praktik politik.

Kepemimpinannya menjadi simbol pencarian arah baru—sebuah upaya mempertemukan moralitas dan kekuasaan tanpa menjadikan salah satunya korban.

 *Politik Nilai, Bukan Politik Identitas* 

Meski dipimpin oleh seorang pendeta, PASTI secara tegas menolak label partai agama. Partai ini menempatkan diri sebagai pengusung *nilai-nilai universal* : keadilan, kesetaraan warga negara, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kebebasan berkeyakinan.

Dalam pandangan PASTI, nilai iman menemukan relevansinya ketika diwujudkan dalam kebijakan publik yang inklusif, bukan ketika dipakai sebagai alat eksklusivitas politik. Politik identitas sempit justru dianggap sebagai ancaman bagi persatuan nasional.

 *Pancasila sebagai Rumah Bersama* 

PASTI menegaskan komitmennya pada *Pancasila dan konstitusi* sebagai fondasi kehidupan berbangsa. Partai ini ingin menjadi ruang politik yang aman bagi minoritas tanpa menegasikan hak mayoritas—sebuah ikhtiar merawat keseimbangan di tengah keberagaman Indonesia.

Dalam konteks ini, kesetaraan bukan slogan, melainkan prinsip dasar dalam merumuskan kebijakan dan sikap politik.

 *Menguji Etika di Tengah Realitas Kekuasaan* 

Tantangan PASTI tidak ringan. Politik Indonesia dikenal keras terhadap partai baru, terlebih yang membawa idealisme etis di tengah realitas pragmatis. Pertanyaannya bukan sekadar apakah PASTI mampu bertahan, tetapi *apakah etika mampu bertahan ketika diuji oleh kekuasaan.* 

Jawaban atas pertanyaan itu akan ditentukan bukan oleh retorika, melainkan oleh konsistensi langkah politiknya ke depan.

 *Sebuah Pesan di Tengah Kelelahan Publik* 

Kehadiran Partai Setara Indonesia setidaknya menghadirkan satu pengingat penting: politik tidak harus selalu identik dengan intrik dan kepalsuan. Di tengah kelelahan kolektif masyarakat terhadap wajah politik yang itu-itu saja, PASTI datang membawa pesan sederhana namun mendasar—
 *politik tanpa etika hanyalah kekuasaan tanpa arah.* 

Sumber : Pelita Kota News / Romo Kefas
Editor     : rgy
Komentar

Tampilkan

  • Partai Setara Indonesia: Mencari Etika yang Hilang dalam Politik Nasional*Ketika Politik Kehilangan Nurani*
  • 0

Terkini

layang

.

Topik Populer

Iklan

Close x