AESENNEWS.COM, BANDUNG, Ada zaman ketika kebenaran tidak lagi diserang secara frontal. Ia tidak dibakar, tidak dilarang, dan tidak dipenjara. Ia dibiarkan hidup—namun kehilangan daya. Tenggelam di antara opini, distraksi, dan kebisingan yang sengaja diciptakan. Di zaman seperti inilah, tantangan terbesar jurnalisme bukan sensor, melainkan kelelahan publik terhadap kebenaran itu sendiri.
Masyarakat dibanjiri informasi, tetapi semakin sulit membedakan mana yang penting dan mana yang sekadar ramai. Fakta hadir setiap menit, namun empati dan keadilan kerap tertinggal. Dalam situasi seperti ini, jurnalisme menghadapi godaan besar: menjadi penghibur keadaan, bukan pengganggu nurani.
Di tengah pusaran itu, jurnalis Kristen berdiri dengan sebuah panggilan yang tidak ringan. Bukan untuk menguasai ruang publik dengan simbol iman, bukan pula untuk mengklaim keunggulan moral, melainkan untuk menjaga agar kebenaran tetap memiliki suara. Karena ketika kebenaran dilemahkan oleh kompromi, jurnalisme kehilangan maknanya sebagai pelayanan publik.
Dalam tradisi iman, suara kenabian selalu muncul pada saat masyarakat mulai berdamai dengan ketidakadilan. Nabi tidak hadir untuk menyenangkan telinga, tetapi untuk membangunkan hati. Ia berbicara ketika mayoritas memilih diam, dan ia berdiri ketika kenyamanan dijadikan standar moral.
“Celakalah mereka yang menyebut yang jahat itu baik dan yang baik itu jahat.”
(Yesaya 5:20)
Peringatan ini bukan hanya seruan religius, melainkan cermin sosial. Ketika kebohongan dibungkus kepentingan, ketika diskriminasi disebut kewajaran, dan ketika ketidakadilan dianggap harga stabilitas, di sanalah suara kenabian menemukan urgensinya.
Jurnalis Kristen tidak bekerja di mimbar. Ia bekerja di ruang redaksi, di lapangan, dan di tengah tekanan. Ia diuji bukan hanya oleh kekuasaan, tetapi juga oleh algoritma, kepentingan ekonomi, dan arus opini mayoritas. Di sinilah objektivitas sering disalahpahami. Objektivitas bukan berarti membeku secara moral, melainkan setia pada fakta dan jujur pada dampaknya.
Ketika intoleransi menjadi wacana populer, jurnalis Kristen tidak dipanggil untuk netral. Ketika kelompok rentan disingkirkan atas nama suara terbanyak, jurnalis Kristen tidak boleh berlindung di balik bahasa aman. Karena netralitas terhadap ketidakadilan bukan kebajikan, melainkan pembiaran.
Kearifan Nusantara berkata, “Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga.” Kekuasaan yang menutup telinga terhadap kritik akan selalu rapuh. Di titik inilah pers berfungsi sebagai pengingat—bahwa kekuasaan ada untuk melayani, bukan untuk membungkam.
Menjadi jurnalis Kristen di Indonesia berarti berdiri di persimpangan iman dan kebangsaan. Dua fondasi ini tidak bertentangan. Justru di sanalah jurnalis Kristen menemukan pijakan etisnya. Pancasila dan UUD 1945 menegaskan keadilan, kesetaraan, dan kebebasan sebagai nilai bersama. Ketika agama diperalat untuk menyingkirkan sesama warga, suara kenabian harus hadir—tanpa kebencian, tanpa kekerasan, tetapi dengan kejelasan sikap.
“Hendaklah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.”
(Amos 5:24)
Ini bukan slogan rohani, melainkan mandat etis bagi jurnalisme yang masih ingin bermakna.
PEWARNA Indonesia: Ruang Menjaga Keberanian
Dalam lanskap inilah PEWARNA Indonesia menemukan perannya. Bukan sebagai menara gading yang merasa paling benar, tetapi sebagai ruang pembinaan nurani. Tempat jurnalis Kristen belajar tetap tajam tanpa kehilangan empati, berani tanpa menjadi beringas, dan setia pada etika di tengah tekanan zaman.
PEWARNA tidak dimaksudkan sebagai tempat berlindung dari kritik, melainkan sebagai rumah untuk saling menguatkan agar suara kenabian tidak padam oleh kelelahan, ketakutan, atau kompromi yang perlahan.
Kesetiaan Lebih Mahal dari Kenyamanan
Sejarah selalu berpihak pada mereka yang berani setia. Bukan setia pada kekuasaan, bukan setia pada mayoritas, tetapi setia pada kebenaran. Jurnalis Kristen tidak dipanggil untuk menjadi aman. Ia dipanggil untuk tetap menyala—meski kecil, meski sendiri.
“Firman itu menjadi api dalam tulang-tulangku.”
(Yeremia 20:9)
Api itu tidak selalu terlihat besar. Tetapi selama ia menyala, kegelapan tidak pernah benar-benar menang.
Karena bangsa yang lelah pada kebenaran tidak membutuhkan lebih banyak kebisingan.
Ia membutuhkan suara yang jujur, tenang, dan berani—
suara kenabian yang setia menjaga nurani bersama.
Penulis : Kefas Hervina
Devananda
Editor : rgy
