AESENNEWS.COM,BANDUNG- Jurnalis Kristen dan Panggilan Membela Mereka yang Disenyapkan,
Di tengah derasnya arus informasi, pers hari ini tidak lagi sekadar berlomba menyampaikan fakta. Ia berlomba menarik perhatian. Algoritma, klik, dan kepentingan pasar perlahan membentuk arah pemberitaan—sering kali tanpa ruang bagi suara yang lemah dan terpinggirkan.
Dalam lanskap seperti ini, jurnalisme menghadapi krisis sunyi: bukan kekurangan informasi, melainkan kekeringan empati.
Kaum miskin, korban ketidakadilan hukum, buruh yang kehilangan hak, masyarakat adat yang terusir dari tanahnya, dan kelompok minoritas yang terpinggirkan, kerap hadir hanya sebagai angka dan peristiwa. Mereka diberitakan, tetapi tidak sungguh didengarkan. Disorot, namun jarang dibela.
Ketika media kehilangan keberanian untuk berdiri di sisi mereka yang lemah, demokrasi tidak runtuh secara tiba-tiba—ia lapuk perlahan dari dalam.
---
Objektif dalam Fakta, Berpihak pada Kemanusiaan
Sering kali keberpihakan disalahpahami sebagai pelanggaran objektivitas. Padahal, dalam etika jurnalistik yang sehat, objektif tidak berarti dingin terhadap penderitaan, dan netral bukan berarti abai terhadap ketidakadilan.
Jurnalisme sejati menuntut ketepatan data sekaligus kepekaan nurani.
Kitab Suci tidak pernah memisahkan kebenaran dari keadilan. Amsal 31:8–9 dengan jelas menyerukan agar suara mereka yang dibungkam tidak dibiarkan tenggelam. Pesan ini bersifat profetis—melampaui ruang ibadah dan menembus ruang redaksi.
Di titik inilah jurnalis Kristen berdiri: bukan sebagai pengkhotbah di ruang publik, melainkan sebagai penjaga nurani di tengah hiruk-pikuk informasi.
--
Tekanan Industri dan Godaan Diam
Tidak bisa disangkal, industri media modern bekerja di bawah tekanan ekonomi yang berat. Kecepatan, sensasi, dan konflik elit lebih mudah dijual dibanding liputan panjang tentang ketidakadilan struktural di akar rumput.
Akibatnya, tragedi sosial kerap diperlakukan sebagai komoditas emosional—mengundang simpati sesaat, tetapi jarang mendorong perubahan.
Dalam situasi ini, diam sering terasa lebih aman daripada bersuara. Aman bagi karier. Aman bagi institusi. Namun sejarah jurnalisme menunjukkan satu hal: ketakutan wartawan sendiri adalah ancaman terbesar bagi kebebasan pers.
--
Peran Strategis Komunitas Wartawan Kristen
Di tengah tekanan tersebut, keberadaan komunitas seperti Pewarna Indonesia menjadi penting bukan sekadar sebagai organisasi profesi, tetapi sebagai ruang pemeliharaan integritas.
Wartawan Kristen membutuhkan ekosistem yang meneguhkan: tempat belajar, berdiskusi, dan saling mengingatkan bahwa profesi ini bukan hanya soal keterampilan, melainkan soal karakter.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, peran ini juga mencakup tanggung jawab lintas iman—menghadirkan pemberitaan yang menyejukkan tanpa kehilangan daya kritis terhadap ketidakadilan.
--
Merawat Tradisi Kenabian di Ruang Publik
Dalam sejarah iman, suara kenabian selalu muncul ketika kekuasaan kehilangan arah moral. Para nabi tidak populer. Mereka sering ditolak. Namun mereka memilih setia pada kebenaran daripada aman dalam kompromi.
Jurnalis Kristen hari ini mewarisi semangat itu—bukan dengan bahasa religius yang menggurui, tetapi dengan keberanian menyajikan fakta yang utuh, jujur, dan berpihak pada martabat manusia.
Menjadi wartawan Kristen berarti siap membayar harga: tekanan, stigma, bahkan risiko profesional. Namun perubahan sosial tidak pernah lahir dari kenyamanan, melainkan dari kesetiaan pada nurani.
-
Jurnalisme sebagai Pelayanan
Pada akhirnya, jurnalisme Kristen menemukan maknanya ketika ia kembali pada esensi: pelayanan kepada manusia. Berita bukan hanya alat informasi, tetapi juga cermin keadilan dan sumber harapan.
Selama pers masih berani menyuarakan penderitaan mereka yang tak terdengar, harapan bagi keadilan tetap hidup. Namun ketika pers memilih diam, ketidakadilan akan berjalan tanpa saksi.
Di titik itulah, jurnalis Kristen dipanggil untuk tetap berdiri—
tidak selalu populer,
tidak selalu aman,
tetapi setia pada kebenaran dan kemanusiaan.
Penulis : Kefas Hervin Devananda
Editor : rgy
