-->

popunder

no-style

Menyikapi Imlek sebagai Orang Percaya: Antara Iman dan Kebersamaan*

Sunday, February 15, 2026, 11:53:00 AM WIB Last Updated 2026-02-15T04:53:42Z
AESENNEWS.COM, BANDUNG- Dua hari lagi dunia merayakan Imlek. Hari ini, Imlek tidak lagi identik hanya dengan etnis Tionghoa atau agama tertentu. Banyak orang dari berbagai latar belakang ikut meramaikan suasana: mengenakan pakaian bernuansa merah, menikmati barongsai, berbagi angpao, hingga sekadar menikmati hari libur bersama keluarga.

Lalu pertanyaannya: apakah Imlek itu perayaan agama atau tradisi budaya?

Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak.

Disebut sebagai perayaan keagamaan karena dalam sebagian komunitas Tionghoa, Imlek disertai dengan ritual ibadah atau sembahyang di kelenteng. Namun di sisi lain, banyak orang Tionghoa yang merayakan Imlek tanpa ritual keagamaan. Bahkan banyak pula non-Tionghoa yang ikut bersukacita dalam suasana budaya tanpa unsur ibadah. Barongsai pun kini dimainkan oleh siapa saja, tanpa batas etnis maupun agama.

Faktanya, ada juga orang Tionghoa yang sama sekali tidak merayakan Imlek.

Lalu bagaimana orang percaya menyikapinya?

Sebagai orang percaya, prinsip pertama yang perlu dipegang adalah kesetiaan kepada Tuhan.

Keluaran 20:3
"Jangan ada padamu ilah lain di hadapan-Ku."

Artinya, kita tidak ikut dalam bentuk penyembahan atau ritual yang bertentangan dengan iman kepada Kristus. Iman tetap menjadi fondasi.

Namun dalam hal budaya dan kebersamaan sosial, Alkitab juga mengajarkan hidup damai dan membangun relasi.

Roma 12:18
"Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang."

Ikut menikmati hari libur, bersilaturahmi, memakai pakaian bernuansa Imlek, atau menikmati pertunjukan budaya bukanlah penyembahan. Itu bagian dari kehidupan sosial dalam masyarakat majemuk.

Rasul Paulus pernah menegaskan prinsip penting:

1 Korintus 10:31
"Jika engkau makan atau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan."

Artinya, yang terutama bukan sekadar ikut atau tidak ikut, tetapi bagaimana hati kita. Apakah dalam semua yang kita lakukan, Kristus tetap menjadi pusatnya?

Sikap Bijak Orang Percaya

1. Tidak ikut dalam ritual ibadah yang bukan bagian dari iman Kristen.


2. Menghargai budaya dan menjaga relasi sosial.


3. Menjadi terang dan garam di tengah masyarakat.


4. Tidak mudah menghakimi, tetapi juga tidak kehilangan identitas iman.



Imlek, seperti perayaan budaya lainnya, bisa menjadi ruang untuk menunjukkan kasih, membangun persahabatan, dan menjadi saksi Kristus melalui sikap yang penuh damai.

Sebagai sesama manusia ciptaan Tuhan, kita tidak bermasalah untuk ikut bersukacita dalam suasana kebersamaan dan hari libur. Namun sebagai orang percaya, kita tetap berakar pada iman.

Menghargai budaya tidak berarti mencampuradukkan iman.
Bersukacita bersama tidak berarti kehilangan identitas.

Yang terpenting, dalam setiap perayaan apa pun, Kristus tetap menjadi pusat hidup kita.

(robby tingaray)
Komentar

Tampilkan

  • Menyikapi Imlek sebagai Orang Percaya: Antara Iman dan Kebersamaan*
  • 0

Terkini

layang

.

Topik Populer

Iklan

Close x