AESENNEWS.COM,BANDUNG - Suatu hari, tanpa kita sadari, tubuh mulai berbicara.
Ia tidak lagi sekuat dulu. Langkah terasa lebih berat, tenaga cepat habis, dan hal-hal kecil yang dulu mudah, kini mulai terasa sulit.
Di cermin, waktu juga meninggalkan jejaknya.
Rambut yang memutih, garis-garis halus di wajah, dan tatapan yang mulai menyimpan banyak cerita.
Semua itu seperti sebuah bisikan lembut dari YHWH…
bahwa hidup ini tidak selamanya.
Dulu kita merasa masih punya banyak waktu.
Masih bisa menunda.
Masih bisa berkata, “Nanti saja… nanti kalau sudah lebih siap… nanti kalau sudah lebih tenang…”
Namun waktu tidak pernah menunggu siapa pun.
Satu per satu orang yang kita kenal mulai pergi.
Yang kemarin masih berbicara, hari ini sudah tiada.
Yang dulu tertawa bersama, kini tinggal kenangan.
Dan diam-diam, sebuah pertanyaan muncul dalam hati:
kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Kapan lagi kita sungguh-sungguh hidup benar di hadapan Elohim?
Kapan lagi kita memperbaiki yang rusak?
Kapan lagi kita berhenti mengejar yang fana, dan mulai mengejar yang kekal?
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan,
melainkan tentang seberapa dekat kita berjalan bersama YHWH.
Kita tidak tahu kapan waktu itu datang.
Tidak ada yang tahu hari atau jamnya.
Namun satu hal yang pasti—
saat itu akan tiba.
Dan ketika saat itu datang,
yang tersisa bukanlah harta, bukan pula pencapaian,
melainkan apakah hidup kita berkenan di hadapan Elohim.
Hari ini, jika kita masih diberi nafas,
itu bukan kebetulan.
Itu adalah kesempatan.
Kesempatan untuk kembali.
Kesempatan untuk berubah.
Kesempatan untuk hidup lebih dekat dengan Yeshua Hamasiah.
Jangan tunggu nanti.
Jangan tunggu sampai semuanya terasa terlambat.
Karena waktu terbaik itu bukan besok.
Bukan juga nanti.(RT/rgy)
*Waktu terbaik itu… sekarang.*
