AESENNEWS.COM, Bandung, Pada 17 April 2026, kisah inspiratif kembali datang dari lingkungan generasi muda yang aktif bertumbuh melalui proses. Adinda Nurfatihatun Najah, yang akrab disapa Dinda, dikenal sebagai fasilitator di Aksara Rembaka ID yang saat ini menjalani peran sebagai mahasiswa sekaligus individu yang terus mengembangkan diri melalui pengalaman organisasi.
Dalam kesehariannya, Dinda dikenal sebagai pribadi yang hangat, reflektif, serta memiliki cara pandang yang mendalam terhadap kehidupan. Di tengah berbagai aktivitasnya, ia menemukan ketenangan melalui kegiatan melukis dan mewarnai aktivitas yang baginya bukan sekadar hobi, tetapi juga menjadi sarana untuk meredakan stres dan menata kembali kondisi emosional.
Saat menghadapi kelelahan, Dinda memilih untuk berhenti sejenak, memberi ruang bagi dirinya untuk berpikir dan merasakan. Ia terbiasa mengambil waktu untuk menenangkan pikiran, hingga mampu melihat situasi dengan lebih jernih sebelum melangkah lebih jauh.
Perjalanan hidup Dinda tidak lepas dari berbagai tantangan. Ia pernah berada pada fase penuh tekanan dan perubahan besar yang mengubah arah hidupnya secara signifikan. Dalam periode tersebut, ia menghadapi berbagai dinamika, mulai dari perpindahan sekolah, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga mengalami kecemasan dalam menjalani keseharian.
Namun, dari fase tersebut, Dinda justru menemukan pelajaran berharga tentang ketahanan, penerimaan, serta kekuatan diri. Prinsip hidup yang ia pegang, “likulli syai’in hikmah” (setiap hal memiliki hikmah), menjadi fondasi penting dalam membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.
Nilai tersebut mendorongnya untuk menjadi pribadi yang lebih tenang, mampu menerima keadaan, serta berusaha melihat setiap proses dengan sudut pandang yang positif. Bagi Dinda, hidup bukan tentang memenuhi ekspektasi manusia, melainkan tentang menjalani peran dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Pertemuan Dinda dengan Aksara Rembaka menjadi titik penting dalam proses pemulihan dan pertumbuhannya. Di tengah keinginan untuk kembali melangkah dan mengatasi rasa takut, ia menemukan ruang yang mendukung untuk berkembang tanpa tekanan. Lingkungan tersebut memberinya kesempatan untuk kembali membangun kepercayaan diri.
Salah satu momen berharga dalam perjalanannya adalah ketika ia dipercaya menjadi MC. Kesempatan tersebut bukan sekadar pengalaman berbicara di depan umum, tetapi juga menjadi langkah awal dalam menghidupkan kembali keberanian yang sempat tertunda.
Dalam kerja tim, Dinda dikenal sebagai sosok yang memiliki inisiatif serta kemampuan dalam mengatur alur kerja dengan baik. Ia juga memiliki ketertarikan di bidang konseling sebaya (peer counselor), serta mampu tetap menjalankan tanggung jawab meskipun berada dalam tekanan.
Ke depan, Dinda berencana untuk mengembangkan diri di bidang Human Resources serta tumbuh kembang anak. Ia berharap dapat berkontribusi sebagai individu yang tidak hanya berkembang secara profesional, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Bagi Dinda, hidup adalah perjalanan yang tidak perlu dibandingkan. Ia meyakini bahwa setiap individu memiliki jalannya masing-masing, dan bahwa kepercayaan baik kepada diri sendiri maupun kepada Tuhan—menjadi kunci untuk terus melangkah.
Dengan prinsip “cukup Allah sebagai saksi,” Dinda menjalani kehidupannya dengan ketenangan yang lahir dari penerimaan. Ia tidak hanya mampu bertahan dari masa sulit, tetapi juga menjadikannya sebagai sumber kekuatan untuk terus bertumbuh dan memberi makna dalam setiap langkah.



