-->

popunder

no-style

Terlihat Kasih, Ternyata Transaksi”* Mari Kita Jujur Pada Diri Sendiri

Wednesday, April 22, 2026, 1:50:00 PM WIB Last Updated 2026-04-22T06:55:15Z
AESENNEWS.COM, BANDUNG - Tidak sedikit dari kita hidup sebagai orang yang “terlihat baik.” Kita menolong, kita memberi, kita peduli. Dari luar, semuanya tampak seperti kasih. Tidak ada yang mencurigakan. Bahkan bisa jadi, kita sendiri percaya bahwa kita sedang mengasihi.

Namun perlahan, hidup menguji apa yang sebenarnya ada di balik semua itu.

Kita mulai merasa lelah ketika kebaikan kita tidak dihargai.
Kita merasa terganggu ketika perhatian kita tidak dibalas.
Kita kecewa ketika pengorbanan kita dianggap biasa saja.

Dan tanpa sadar, hati kita berubah.

Yang tadinya tulus, menjadi sensitif.
Yang tadinya ringan memberi, menjadi berat.
Yang tadinya dekat, mulai menjauh.

Di titik itu, kita biasanya menyalahkan orang lain. Kita bilang mereka tidak tahu berterima kasih, tidak peka, atau tidak punya hati. Tapi kalau kita berani melihat lebih dalam, mungkin masalahnya bukan di sana.

Masalahnya ada pada sesuatu yang sejak awal tersembunyi dalam diri kita: kita memberi, tapi sambil berharap kembali.

Kita mengasihi—atau setidaknya terlihat mengasihi—namun di dalam hati ada sistem yang berjalan diam-diam: sistem transaksi.

Aku sudah berbuat baik.
Sekarang seharusnya ada balasan.

Dan ketika balasan itu tidak datang, kita merasa dirugikan.

Di sinilah kita mulai menyadari sesuatu yang tidak nyaman: apa yang selama ini kita sebut “kasih,” ternyata belum tentu benar-benar kasih.

Karena kasih yang sejati tidak bekerja dengan logika untung-rugi.

Kasih yang sejati tidak berhenti hanya karena tidak dihargai.
Kasih yang sejati tidak berubah hanya karena tidak dibalas.
Kasih yang sejati tidak diam-diam menagih.

Justru ketika tidak ada respon, tidak ada pengakuan, dan tidak ada balasan—di situlah kualitas kasih kita terlihat dengan jujur.

Dan seringkali, di situlah kita gagal.

Bukan karena kita tidak mampu berbuat baik, tetapi karena hati kita masih terikat pada kebutuhan untuk dihargai.

Ego kita masih ingin diakui.
Hati kita masih ingin diperlakukan setimpal.
Dan tanpa kita sadari, semua itu menyusup ke dalam setiap kebaikan yang kita lakukan.

Itulah sebabnya kebaikan kita mudah goyah.
Ia berdiri di atas respon manusia, bukan pada ketulusan yang bebas.

Namun ada jalan yang berbeda.

Kasih yang sejati tidak lahir dari keinginan untuk menerima, tetapi dari keberanian untuk memberi tanpa syarat. Ia tidak bergantung pada bagaimana orang lain memperlakukan kita. Ia tidak menunggu waktu yang tepat untuk dibalas.

Kasih seperti ini memang tidak nyaman. Ia akan sering melukai ego, mematahkan harapan tersembunyi, dan memaksa kita untuk jujur pada diri sendiri.

Tapi justru di situlah sesuatu yang lebih murni sedang dibentuk.

Karena ketika kita tetap memilih untuk memberi tanpa dihitung, tetap peduli tanpa menuntut, dan tetap hadir tanpa perlu diakui—di situlah kasih mulai menjadi nyata.

Bukan lagi sekadar terlihat,
tetapi benar-benar hidup.

Dan mungkin, dari sana kita akhirnya mengerti:

selama ini bukan kita tidak bisa mengasihi—
kita hanya belum berhenti bertransaksi.

Sumber : Kefas Hervin Devananda
Editor    : rt / rgy
Komentar

Tampilkan

  • Terlihat Kasih, Ternyata Transaksi”* Mari Kita Jujur Pada Diri Sendiri
  • 0

Terkini

layang

.

Topik Populer

Iklan

Close x