AESENNEWS.COM,JAKARTA- Saya tidak sedang menulis laporan acara. Ini opini. Dan seperti opini yang lahir dari ruang redaksi, ia dimulai dari satu kegelisahan kecil, penghargaan sering berhenti di panggung. Foto bersama, tepuk tangan, lalu selesai. Di Gedung Nusantara, Kompleks MPR/DPR RI, Jakarta, PEWARNA Indonesia menyiapkan Apresiasi PEWARNA Indonesia 2026. Tema besarnya panjang, API & DOA PEWARNA Jelajah Budaya Jawa Bali, Menyusuri Warisan & Menyemai Harapan. Sub-temanya, Merawat Keberagaman, Menegakkan Integritas, dan Menyemai Harapan Kebangsaan. Bunyinya seperti ajakan lama. Tapi justru karena lama, ia perlu dirawat.
API 2026 rupanya ingin menempuh jalan lain. Ia memilih figur dan lembaga yang terbukti bekerja bagi masyarakat, gereja, dan negara. Penghormatan resmi di gedung parlemen memberi pesan yang jarang terdengar, kerja senyap punya nilai kebangsaan. Anak muda butuh melihat contoh, bukan mendengar janji. Di sinilah penghargaan menjadi alat pendidikan publik, bukan sekadar seremoni.
Ada 12 kategori nominasi. Dari penjaga keberagaman, kepala daerah pengamal harmoni, penegak hukum yang berdampak, figur budaya, lembaga pendidikan, lembaga media, sampai figur muda yang menginspirasi. Rentang itu menunjukkan PEWARNA tidak mengapresiasi kalangan sendiri. Penghargaan menyasar siapa pun yang menanam kebaikan bagi publik. Ini penting. Apresiasi yang terlalu eksklusif cepat basi.
Pers punya pijakan hukum dan etik. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Pasal 3 menempatkan pers nasional sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Pasal 6 mewajibkan pers menghormati norma agama, rasa kesusilaan, dan asas praduga tidak bersalah. Kode Etik Jurnalistik menajamkan rambu itu. PEWARNA memakai dua pijakan ini dalam kerja harian. Wartawan Nasrani mengutamakan akurasi, keberimbangan, dan tanggung jawab. Bukan karena takut sanksi, tetapi karena sadar ada martabat orang lain di ujung pena.
Jelajah Budaya Jawa Bali memberi bahan konkret. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya mengatur pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya. Candi, gereja tua, masjid, pura, dan tradisi lisan menyimpan rekam jejak peradaban. Pers merawatnya lewat pemberitaan yang mendidik. Wisata budaya pun tumbuh bersama kesadaran sejarah. Jangan sampai warisan hanya menjadi latar foto, tanpa cerita.
Doa sebagai etika komunikasi. Yesaya 52,7 memuji kaki mereka yang membawa berita baik dan mengabarkan damai. Teks ini menyentuh langsung profesi jurnalistik. Kabar yang membangun lahir dari niat bersih dan cara yang adil. Lynch dan McGoldrick menamai praktik ini jurnalisme damai, redaksi memilih fakta dan cara pemberitaan yang membuka jalan penyelesaian. Doa PEWARNA menaruh dimensi rohani di ruang kerja redaksi. Tapi doa juga menuntut disiplin. Verifikasi data sebelum menulis. Sebut sumber dengan jelas. Tahan diri dari sensasi yang merusak martabat. Tiga kebiasaan sederhana, dampaknya besar pada kualitas ruang publik.
API 2026 mempertemukan pemimpin lintas iman, pejabat publik, budayawan, dan insan pers. Pertemuan semacam ini melemahkan sekat dan memperkuat kerja bersama. Kebinekaan bukan beban. Ia modal kebangsaan yang sudah teruji sejarah panjang. Forum ini bekerja sebagai mimbar kebangsaan. Peserta bertukar pandangan tanpa saling menyerang. Mencari titik sambung, bukan titik pisah. Ketika ruang digital sering memanas oleh provokasi, ruang dialog seperti ini menjadi kebutuhan, bukan kemewahan.
Kegiatan ini juga membangun sinergi strategis. Pers, pemerintah, lembaga keagamaan, budayawan, dan organisasi masyarakat sipil duduk satu meja. Kolaborasi itu mempercepat penyelesaian masalah nyata di lapangan, mulai dari literasi media sampai pelestarian situs budaya. Tidak ada yang bisa bekerja sendiri. Tidak ada yang perlu merasa paling benar.
API & DOA PEWARNA Jelajah Budaya Jawa Bali menautkan penghormatan, doa, dan pelestarian budaya dalam satu gerakan. Pers Nasrani mengubah integritas menjadi kebiasaan harian, bukan slogan musiman. Masyarakat menanti keteladanan baru yang mengubah cara kita bekerja, melayani, dan merawat Indonesia. Pro Ecclesia et Patria.
Oleh, Dr. Antonius Natan, Committee Chairperson
Reporter : Christin
