-->

iklan tengah artikel

no-style

Intoleransi KBB, turut berimbas pada sektor pendidikan dan perlu adanya edukasi KBB

AESENNEWS.COM
Tuesday, August 16, 2022, 3:34:00 PM WIB Last Updated 2022-08-16T08:34:01Z
AESENNEWS.COM | Cianjur- Pendidikan merupakan sesuatu yang penting apalagi diindonesia ini diwajibkan untuk mengikuti pendidikan selama dua belas tahun yakni jenjang sekolah menengah atas/kejuruan/sederajat, namun dalam dunia pendidikan tersebut menjadi sesuatu yang dinilai mampu terimbas oleh oknum-onkum yang tidak memiliki hati yang toleransi terhadap keragaman beragama. 

Kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah suatu hal yang perlu dilakukan di berbagai sektor kehidupan masyarakat, terlebih lagi dalam sektor pendidikan, dimana anak-anak yang masih labil-labilnya terkadang mendapatkan hal yang diluar dugaan semisal pembullyan, diasingkan oleh teman-temannya,  dan masih banyak yang lainnya.  

Seperti halnya yang dialami oleh S.A (inisial)  mengalami hal yang diluar logikanya, beliau bersekolah di salah satu sekolah negeri di cianjur,  dan sebagai salah satu murid yang beragama Nasrani. Sejak duduk di bangku sekolah menengah tersebut,  S.A terkadang di bully,  ketika belajar pendidikan agama harus mengikuti pelajaran yang menjadi mayoritas disekolah tersebut (bahkan di paksa ikut belajar). 

"saya disekolah tidak memiliki teman yang cukup akrab,  lantaran saya beragama nasrani,  malahan ada rekan satu kelas saya bilang jangan berteman dengan saya, karena orang kristen ada misi kristenisasi, kadang ada ucapan seperti itu yang terdengar di telinga saya ketika ada di tengah-tengah mereka,  saya sih tau itu guyonan/candaan tapi rasanya seperti sesuatu hal yang sensitif dan tidak perlu seperti itu", ucapnya kepada awak media pada (16/8/22).

S.A lebih lanjut menceritakan mengenai pengalaman disekolahnya bahwa "tidak semua rekan-rekan seperti itu, Tapi ada beberapa saja". 

Melihat dari ironi yang terjadi pada S.A, menunjukan bahwa edukasi mengenai kebebasan beragama dan berkeyakinan perlu dilakukan di sekolah-sekolah negeri maupun swasta. Pasalnya diskriminatif kebebasan beragama juga berimbas pada sektor pendidikan dan anak-anak seperti S. A inilah yang menjadi korban karena kurangnya pemahamam akan kebebasan beragama dan berkeyakinan diindonesia ini.  

Menilik lebih jauh informasi yang dihimpun awak media,  bukan hanya saja murid-murid yang menjadi eksekutor tapi justru guru disekolah tersebut juga turut serta, namun tidak terlalu dominan.  

Seperti pada pemberitaan sebelumnya yang diterbitkan di media aesennews.com, bahwa jawa barat masih sangat rendah perihal toleransi kebebasan beragama dan berkeyakinan,  ini memang seperti ini adanya,  miris memang.

Harapan S.A yang dikatakan kepada awak media "saya sih tidak jadi masalah dan saya anggap itu guyonan, namun bagi orang lain yang mentalnya tidak seperti saya malah akan menjadi sesuatu yang negatif entah itu psikolognya terganggu karena banyak tekanan dari sana dan sini, harapan kedepannya adalah agar pemerintah bisa memfasilitasi dan memberikan edukasi bahwa pentingnya tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan,  karena itu negar sudah mengaturnya, kalo negara sudah mengaturnya alangkah baiknya negara juga turut mengedukasinya", tutupnya.  (16/8/22).

-Asep Supriana-

Komentar

Tampilkan

  • Intoleransi KBB, turut berimbas pada sektor pendidikan dan perlu adanya edukasi KBB
  • 0

Terkini

layang

.

social bar

social bar

Topik Populer

Iklan

Close x