AESENNEWS.COM.BANDUNG - Jika aku menoleh ke masa kecilku, rasanya seperti membuka album kenangan yang penuh warna dan kehangatan. Aku masih mengingat masa-masa tinggal bersama papi, mami, dan mas Is di sebuah desa kecil yang waktu itu bahkan belum memiliki aliran listrik. Malam-malam kami hanya diterangi lampu minyak, tetapi cinta dan tawa di rumah membuat semuanya terasa terang.
Kini, setelah waktu berlalu dan papi serta mami telah berpulang ke hadirat Tuhan, kenangan itu menjadi semakin berharga. Di antara banyak hal yang kutemukan dari perjalanan hidup kami, ada satu hal yang tak pernah pudar — sosok papi yang selalu memberi semangat dan menyalakan harapan.
Bagiku dan mas Is, papi akan selalu dikenal sebagai “Papi Sang Motivator.”
Kasih yang Sederhana Tapi Bermakna
Setiap kali papi pulang dari kota dengan mengendarai Vespa tuanya, aku dan mas Is berlari menyambutnya. Di tangannya biasanya ada sekotak martabak manis — jajanan yang sangat mewah bagi kami waktu itu. Martabak berlapis mentega dan cokelat yang harum menjadi simbol kasihnya yang tulus.
Ia membungkus martabak itu dengan kardus sederhana dan serbet bersih, karena di masa itu belum ada kantong plastik. Papi selalu memikirkan cara sederhana untuk menyenangkan keluarga kecilnya.
Sementara mami yang berprinsip hemat kadang menegur kebiasaannya yang suka jajan, tetapi di situlah keindahan keluarga kami: cinta yang saling melengkapi antara kasih papi dan kebijaksanaan mami.
“Kasih itu sabar, kasih itu murah hati... ia tidak mencari keuntungan diri sendiri.”
— 1 Korintus 13:4–5
Menghargai Berkat Sekecil Apa Pun
Salah satu hal yang masih jelas terbayang adalah kegemaran papi menikmati buah mangga dari pohon di halaman belakang rumah. Ia mengupas, memotong, lalu membagikan kepada kami potongan buah yang segar dan manis.
Setelah semua potongan habis, papi selalu menggerogoti biji mangganya sampai bersih. Sekilas lucu, tapi sekarang aku mengerti — papi sedang mengajarkan kami untuk menghargai setiap berkat kecil yang Elohim berikan, tanpa menyia-nyiakannya.
“Karena segala sesuatu yang dijadikan Elohim itu baik dan tidak ada yang haram, kalau diterima dengan ucapan syukur.”
— 1 Timotius 4:4
Disiplin dan Rajin Bekerja
Papi adalah teladan dalam hal kerja keras dan disiplin. Setiap pagi sebelum matahari muncul, ia sudah bangun, membuka toko kelontong dan emas keluarga, lalu menyapu teras dan anak tangga hingga bersih. Bahkan kadang disiram air supaya tidak berdebu.
Kini aku tahu, di balik setiap sapuan dan tetes keringat itu, papi sedang mengajarkan kami arti tanggung jawab dan ketekunan.
Meski dalam keseharian mami yang lebih sering melayani pembeli, papi selalu berperan penting memastikan semuanya berjalan lancar.
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
— Kolose 3:23
Pujian dan Musik yang Menghidupkan Rumah
Selain rajin bekerja, papi juga sangat mencintai musik dan pujian. Ia bisa bermain gitar dan hafal banyak lagu gereja. Hampir setiap sore, rumah kami dipenuhi suara gitar dan nyanyian pujian.
Bagiku, itu saat-saat paling berharga — duduk di samping papi, ikut menyanyi bersama, dan merasakan sukacita yang tulus. Ia juga mengoleksi banyak kaset lagu rohani dari penyanyi dalam dan luar negeri.
Bagi papi, musik adalah cara memuji Tuhan dan menyemangati keluarga. Alunan lagunya membuat rumah kecil kami terasa hangat dan damai.
“Bernyanyilah dan bersoraklah bagi Tuhan, sebab besar Dia di tengah-tengahmu, Yang Mahakudus, Elohim Israel.”
— Yesaya 12:6
Saat Harus Berpisah
Ketika tiba waktunya aku dan mas Is melanjutkan SMA di kota besar, papi berjuang keras agar kami bisa mendapat pendidikan yang lebih baik. Kami harus tinggal bersama nenek dan paman. Walau jarang bertemu, papi selalu berusaha memberi dorongan melalui pesan, surat, atau kunjungan singkatnya.
Setiap kali bertemu, ia tak pernah lupa berkata,
“Jangan takut akan hari esok. Elohim selalu menyertai anak-anak yang berharap kepada-Nya.”
Kata-katanya sederhana, tapi penuh kuasa. Ia seperti menghidupi firman ini:
“Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
— Ulangan 6:7
Saat Aku Sakit dan Papi Menyanyi
Suatu kali, di masa kuliah, aku mengalami gangguan kulit yang parah — gatal di seluruh tubuh, bentol kecil, bahkan bernanah. Papi berkunjung ke kost ku dan membawaku pulang ke rumah.
Keesokkan harinya papi mengantarku ke dokter langganan di masa kecil.
Dokter menyebutkan penyebabnya psikosomatis, gangguan psikis yang berdampak pada fisik. Memang saat itu aku sedang berjuang menyelesaikan skripsi.
Sepanjang perjalanan pulang dari dokter sampau ke rumah sejauh 20 km, papi menyanyikan dua lagu secara bergantian:
“Tuhan Kuasa Melakukan Segala Perkara” dan “Ajaiblah Tuhan, Kau Sungguh Heran.”
Ia menyanyikannya berulang-ulang dengan suara lembut namun penuh iman. Aku yang lemah hanya bisa mendengarkan. Tapi lagu itu menenangkan hatiku, menyalakan pengharapan, dan sampai hari ini masih terngiang jelas di telingaku.
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”
— Amsal 17:22
Papi yang Juga Manusia Biasa
Papi bukan tanpa kelemahan. Ia pun pernah terluka, kecewa, dan bergumul. Pernah suatu kali ia meneleponku sambil menahan tangis, menceritakan pergumulannya dengan mami. Tapi dari setiap kisah itu, aku melihat sisi lain dari papi — manusia yang tetap rendah hati, jujur pada kelemahannya, tapi tidak pernah melepaskan imannya kepada Tuhan.
“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali.”
— Amsal 24:16
Kini, keduanya telah menyelesaikan pertandingan iman mereka.
Papi dan mami telah pulang dengan tenang ke rumah Bapa di surga.
Namun semangat, kasih, dan teladan hidup mereka tetap tinggal — menjadi jejak iman yang hidup dalam diri kami, anak-anak dan cucu-cucunya.
Warisan Terindah
Sampai hari ini, setiap kali aku mengingat kata-kata papi, aku masih bisa mendengar suaranya berkata lembut:
“Tetap semangat, jangan takut. Elohim selalu punya rencana indah.”
Warisan papi bukanlah harta benda, tapi nilai-nilai hidup yang berakar dalam Firman Tuhan — kerja keras, ketekunan, kasih, dan iman yang tidak goyah.
Itu juga warisan mami, yang dengan kelembutan dan keteguhannya meneguhkan keluarga kami.
“Didiklah anakmu di jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari padanya.”
— Amsal 22:6
Kini aku bersyukur, karena melalui hidup dan teladan mereka, aku belajar bahwa iman yang diwariskan jauh lebih bernilai daripada harta apa pun.
Papi dan mami telah pulang, tapi semangat mereka tetap hidup — menyala di hati kami, menuntun kami untuk terus berharap dan melayani Tuhan dengan setia.
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
— 2 Timotius 4:7
Terima kasih, Papi dan Mami.
Kasih, semangat, dan teladan hidup kalian akan selalu kami kenang.
Sampai suatu hari nanti, kita bertemu kembali di rumah Bapa,
di mana tidak ada lagi air mata — hanya sukacita kekal bersama Yeshua, Tuhan dan Juruselamat kita.
“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya.”
— Yesaya 40:31 . (Rt.Tgry)
