-->

popunder

no-style

Saat Tangisan Anak Diabaikan, Kita Semua Gagal*

Tuesday, April 28, 2026, 11:16:00 PM WIB Last Updated 2026-04-28T16:17:07Z
AESENN EWS.COM, BANDUNG-Semua bermula dari kecurigaan orang tua—anak yang pulang bukan lagi anak yang sama. Lebih diam, lebih takut, lebih mudah menangis. Kecurigaan itu akhirnya menemukan jawabannya saat rekaman CCTV terbuka: balita-balita itu diikat, dibatasi geraknya, diperlakukan tanpa empati—seolah mereka bukan manusia kecil yang harus dijaga, tetapi beban yang harus “diamankan”. Dan yang paling menyakitkan, itu bukan kejadian sekali. Itu rutinitas.

Di titik itu, hati nurani seharusnya berteriak.

Ini bukan sekadar kasus kekerasan. Ini pengkhianatan terhadap kepercayaan paling dasar seorang orang tua. Mereka menitipkan anak dengan harapan: aman, dirawat, dikasihi. Yang terjadi justru sebaliknya—anak-anak itu “dititipkan” pada ketakutan.

Bagaimana mungkin tangan orang dewasa yang seharusnya melindungi justru menjadi sumber luka? Bagaimana mungkin tangisan anak bisa dianggap gangguan yang harus dibungkam, bukan sinyal yang harus dipeluk?

Alasannya klise—kelelahan, kekurangan tenaga, demi efisiensi, bahkan demi keuntungan. Tapi tidak ada alasan yang cukup untuk membenarkan satu pun tindakan itu. Tidak ada. Ketika seorang balita diikat agar “tidak merepotkan”, yang terikat sebenarnya bukan hanya tubuhnya—tetapi juga nurani kita sebagai manusia.

Lebih menyakitkan lagi, ini terjadi dalam ruang yang kita sebut “daycare”—tempat yang seharusnya menjadi perpanjangan kasih dari rumah. Jika ruang seperti itu saja bisa berubah menjadi tempat trauma, lalu di mana lagi anak-anak bisa merasa aman?

Dan di sinilah kita tidak bisa pura-pura tidak tahu. Ini bukan hanya kesalahan pelaku. Ini juga cermin dari sistem yang longgar, pengawasan yang lemah, dan mungkin juga kita—yang terlalu mudah percaya tanpa memastikan.

Dampaknya? Tidak terlihat hari ini saja. Luka itu bisa tumbuh diam-diam. Anak yang seharusnya belajar percaya, justru belajar takut. Anak yang seharusnya merasa aman, justru mengingat dunia sebagai tempat yang menyakitkan.

Kasus ini seharusnya tidak berhenti sebagai berita viral yang kita lupakan minggu depan. Ini harus menjadi garis batas: bahwa ada hal-hal yang tidak boleh ditoleransi, sekecil apa pun alasannya.

Karena jika tangisan anak saja bisa kita abaikan, maka sebenarnya kita sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar—kemanusiaan kita sendiri.

(rt / rgy)
Komentar

Tampilkan

  • Saat Tangisan Anak Diabaikan, Kita Semua Gagal*
  • 0

Terkini

layang

.

Topik Populer

Iklan

Close x