AESENNEWS.COM,BANDUNG- Ada sebuah kisah yang sangat mengharukan tentang seorang ibu yang kehilangan anak semata wayangnya akibat sebuah kecelakaan. Orang yang menyebabkan kematian anaknya akhirnya dijatuhi hukuman penjara.
Tidak ada seorang pun yang akan menyalahkan ibu itu jika ia memilih menyimpan kebencian seumur hidup. Luka yang dialaminya begitu dalam, dan kehilangan itu tidak mungkin tergantikan.
Namun yang terjadi justru di luar dugaan.
Ibu itu datang mengunjungi orang yang telah menyebabkan luka terdalam dalam hidupnya. Ia membawakan makanan, menyapanya dengan penuh kasih, mendengarkan ceritanya, bahkan terus mendoakan dan mendampinginya hingga akhirnya pemuda itu bangkit menjalani hidup yang baru.
Bagi banyak orang, tindakan itu sulit dimengerti. Namun di situlah kita melihat betapa besarnya kuasa pengampunan.
Firman Elohim berkata,
"Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Elohim di dalam Yeshua HaMashiach telah mengampuni kamu."
(Efesus 4:31–32)
Mengampuni bukan berarti menganggap kesalahan itu tidak pernah terjadi. Mengampuni juga bukan berarti melupakan luka yang pernah dialami. Bahkan, mengampuni bukan berarti menyatakan bahwa apa yang dilakukan orang lain adalah benar.
Mengampuni adalah sebuah keputusan untuk tidak membiarkan kepahitan menguasai hati. Sebab ketika kebencian terus dipelihara, sesungguhnya bukan hanya orang lain yang terpenjara, tetapi hati kita sendiri pun kehilangan damai.
Sebaliknya, ketika kita memilih mengampuni, kita sedang membuka pintu bagi Elohim untuk memulihkan hati yang terluka. Pengampunan memang tidak dapat mengembalikan orang yang telah berpulang, dan tidak dapat memutar kembali waktu. Namun pengampunan dapat membebaskan hati yang selama ini terbelenggu oleh kepahitan.
Yeshua HaMashiach telah memberikan teladan yang sempurna. Di tengah penderitaan-Nya di kayu salib, Ia masih berdoa,
"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."
(Lukas 23:34)
Kasih seperti itulah yang sanggup mengubah hati manusia. Kasih yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi memilih menjadi saluran pemulihan.
Mungkin hari ini ada seseorang yang pernah melukai hati kita. Luka itu mungkin masih terasa, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Mengampuni bukanlah perkara mudah. Namun ketika kita menyerahkan luka itu kepada Elohim, Dia akan memberi kekuatan untuk melepaskan beban yang selama ini kita pikul.
Pengampunan tidak menghapus kenangan, tetapi mengubah cara kita memandangnya. Pengampunan tidak selalu mengubah orang lain, tetapi selalu mengubah hati orang yang bersedia mengampuni. *Ketika kita memilih mengampuni, bukan hanya orang lain yang memiliki kesempatan untuk dipulihkan, tetapi kita sendiri pun dibebaskan dari belenggu kebencian. Itulah sebabnya, pengampunan yang lahir dari kasih Elohim selalu menjadi pengampunan yang membebaskan.*(RT Rgy)
