AESENNEWS.COM,BANDUNG- Ada kalanya sebuah perubahan terjadi jauh lebih cepat daripada yang kita bayangkan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih mengikuti rapat kerja dengan Komite IV DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan. Rapat bahkan masih berlangsung ketika Purbaya meninggalkan ruangan setelah menerima panggilan telepon. Beberapa jam kemudian, Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru menggantikannya.
Kita tidak perlu menilai siapa yang benar atau salah dalam pergantian tersebut. Yang menarik untuk direnungkan adalah betapa cepatnya keadaan dapat berubah.Senin (14 September 2026)
Seseorang yang pagi harinya masih menjalankan tugas dalam sebuah jabatan, beberapa jam kemudian bisa saja tidak lagi berada di kursi tersebut.
Peristiwa itu mengingatkan kita pada sebuah kenyataan sederhana: *jabatan bisa berakhir sebelum kita siap meninggalkannya.*
Hari ini seseorang duduk di kursi kekuasaan. Besok kursi itu bisa diduduki orang lain.
Hari ini kita merasa sangat dibutuhkan di tempat kerja. Besok mungkin orang lain meneruskan pekerjaan kita.
Hari ini kita dipercaya memimpin sebuah organisasi. Suatu saat kepemimpinan itu akan berpindah.
Bahkan ketika kita merasa sangat penting bagi sebuah kelompok, lembaga, atau pekerjaan, kehidupan tetap akan berjalan ketika suatu hari kita tidak lagi berada di sana.
Karena itu, jabatan seharusnya tidak membuat seseorang lupa diri.
Ketika mendapatkan jabatan, jangan terlalu cepat merasa bahwa kita sudah sampai.
Ketika jabatan berakhir, jangan merasa bahwa hidup kita juga ikut berakhir.
Dan ketika orang lain menggantikan kita, jangan merasa bahwa nilai diri kita ikut hilang.
*Kursi bisa berganti. Jabatan bisa berpindah. Kekuasaan bisa berakhir. Tetapi nilai diri seseorang tidak seharusnya ditentukan hanya oleh jabatan yang pernah disandangnya.*
Yang perlu kita tanyakan bukan hanya, “Mengapa saya kehilangan jabatan?” tetapi juga, “Apa yang sudah saya lakukan ketika jabatan itu dipercayakan kepada saya?”
Sebab pada akhirnya, yang lebih lama diingat bukan gelar yang pernah kita sandang, melainkan bagaimana kita menggunakan kesempatan itu, bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan kebaikan apa yang pernah kita tinggalkan.
Jangan terlalu melekat pada kursi, karena kursi bisa berganti.
Jangan terlalu bangga pada jabatan, karena jabatan bisa berakhir.
Dan jangan mengukur harga diri dari seberapa lama kita berada di posisi tertentu.
*Jabatan adalah kesempatan untuk berbuat sesuatu, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.*
Mungkin jabatan kita hanya sementara. Tetapi kesempatan untuk berkarya, berbuat baik, dan menjadi berarti bagi orang lain selalu terbuka selama kita masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan.
Karena pada akhirnya, *yang menentukan arti sebuah jabatan bukan berapa lama kita duduk di kursinya, tetapi apa yang kita lakukan selama berada di sana.*
(rt / rgy)
