AESENNEWS.COM,BANDUNG- Sebuah koma yang terlupakan hampir saja membuat seorang suami benar-benar jatuh koma.
Seorang perempuan yang sedang berada di Paris menemukan gelang indah seharga 7.500 dolar, sesuatu yang selama ini dicarinya. Ia pun mengirim telegram kepada suaminya: “Aku menemukan gelang yang selama ini kucari. Harganya 7.500 dolar. Menurutmu, bolehkah aku membelinya?” Sang suami menjawab singkat dan tegas, “No, price too high!” Artinya, “Jangan, harganya terlalu mahal!”
Namun, ketika telegram itu dikirim, tanda koma tersebut terlupakan. Pesannya berubah menjadi, “No price too high.” Artinya, “Tidak ada harga yang terlalu mahal.” Betapa gembiranya sang istri! Ia mengira suaminya telah memberikan lampu hijau untuk membeli gelang itu. Sementara sang suami mungkin hampir benar-benar jatuh koma ketika mengetahui bagaimana pesannya dipahami.
Kisah ini memang lucu, tetapi menyimpan pelajaran yang serius. Sebuah pesan bisa memiliki arti yang sangat berbeda hanya karena kita keliru memahami maksudnya.
Hal seperti ini bukan hanya terjadi dalam urusan gelang dan telegram. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar sepotong perkataan, melihat satu peristiwa, membaca sebuah kalimat, lalu merasa sudah mengetahui seluruh persoalannya.
Kita terkadang terlalu cepat menyimpulkan, terlalu mudah percaya pada informasi yang belum lengkap, bahkan tergesa-gesa menghakimi orang lain hanya berdasarkan apa yang kita dengar. Padahal, apa yang kita ketahui belum tentu menggambarkan keseluruhan kenyataan.
Lebih berbahaya lagi, kadang-kadang kita tidak sungguh-sungguh mencari kebenaran. Kita hanya mencari sesuatu yang dapat membenarkan apa yang sudah lebih dahulu kita yakini. Kita memilih informasi yang sesuai dengan pendapat kita, mengabaikan fakta yang bertentangan, lalu merasa bahwa kitalah yang paling benar.
Akibatnya, kita tidak lagi berusaha memahami kenyataan sebagaimana adanya. Kita justru membentuk kenyataan menurut apa yang ingin kita percayai.
Dalam hubungan antarmanusia, kesalahan memahami maksud perkataan dapat menimbulkan pertengkaran, merusak persahabatan, bahkan memutus hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun. Satu pesan singkat yang disalahartikan bisa menimbulkan kecurigaan. Satu kalimat yang didengar tanpa konteks bisa melahirkan prasangka. Dan satu kesimpulan yang dibuat terlalu cepat bisa melukai seseorang yang sebenarnya tidak bermaksud menyakiti kita.
Karena itu, sebelum menyimpulkan, belajarlah untuk bertanya. Sebelum menghakimi, berusahalah memahami. Sebelum menyebarkan informasi, periksalah kebenarannya. Jangan merasa bahwa kita sudah mengetahui seluruh persoalan hanya karena kita telah mendengar sebagian ceritanya.
Jangan menaruh “koma” di tempat yang kita sukai hanya agar sebuah pesan sesuai dengan keinginan kita. Jangan memaksakan tafsiran kita seolah-olah itulah satu-satunya kebenaran.
Kita perlu memiliki keberanian untuk mengakui bahwa pemahaman kita bisa saja keliru. Sebab, menjadi bijaksana bukan berarti selalu benar, melainkan bersedia memeriksa kembali apa yang kita anggap benar.
Ingatlah, satu koma yang salah hampir membuat seorang suami jatuh koma. Dalam kehidupan nyata, kesalahan memahami perkataan, informasi, atau keadaan dapat membawa kita jauh ke arah yang salah, sementara kita merasa sedang berjalan di jalan yang benar.
Dan mungkin, inilah hal yang paling perlu kita waspadai: bukan sekadar ketika kita tidak mengetahui kebenaran, melainkan ketika kita merasa sudah mengetahui kebenaran, padahal kita hanya memahami sebagian darinya.
(rt / rgy)
