AESENNEWS.COM, BANDUNG, Nama saya LG, usia 73 tahun, tinggal di Kopo Permai Bandung. Elohim mengaruniakan saya lima orang anak dan dua belas cucu yang menjadi sukacita hidup saya. Namun pada tahun 2014, saya mengalami salah satu malam paling menegangkan dan paling menggetarkan iman saya—malam ketika saya melihat sendiri bagaimana Yeshua melakukan mujizat nyata atas cucu saya, J, yang waktu itu baru berusia satu tahun lebih.
*Awal Kejadian: Malam yang Tak Pernah Saya Lupa*
Malam itu, sekitar pukul 8 sampai 9, suasana rumah anak saya Y (ibu dari J) di Mekar Wangi Bandung sedang hangat. Kakak J sedang membuka kado berisi mainan mobil-mobilan dengan remote control. J kecil berada di dekatnya, berdiri dengan rasa penasaran seperti biasa anak seusianya.
Tiba-tiba, ketika antena remote itu ditarik, sebilah benda logam kecil terpental sangat keras, melayang cepat tanpa sempat dihindari, dan menancap tepat di mata kiri J.
Pengasuh J melihat itu dan menjerit kaget. Tanpa pikir panjang ia langsung menarik benda itu dari mata J. Seketika darah mengalir deras, membanjiri wajah kecilnya. Jeritan dan kepanikan langsung memenuhi rumah.
Saat itu Y—ibu dari J—berusaha menggendong J, namun karena ia memiliki riwayat asma, kondisi panik membuat nafasnya langsung sesak dan terengah-engah. Situasi menjadi semakin kacau. Kami berlari-lari, saling memanggil, mencari pertolongan. Setiap tetes darah terasa seperti menusuk hati saya.
*Operasi Pertama: Harapan yang Belum Terjawab*
Setelah kondisi Y sedikit membaik dan J bisa dibawa keluar, malam itu juga J dibawa ke RS A Bandung. Dokter memeriksa sangat teliti dan berkata bahwa saluran air mata J putus… robek… dan harus segera dioperasi malam itu juga.
Saya hanya bisa berdiri memeluk Y yang terus menangis. Anak sekecil itu harus menjalani operasi? Rasanya hati saya hancur.
Operasi pun dilakukan. J dipasang tube/selang kecil di saluran air matanya untuk membentuk aliran baru. Namun setelah itu, yang terjadi justru membuat kami semakin sedih—setiap hari J menangis terus-menerus, merasa tidak nyaman karena ada seperti benang nilon yang bergerak-gerak di matanya. Dua minggu berlalu, tidak ada perbaikan.
Akhirnya keluarga memutuskan membawa J ke rumah sakit di Singapura.
*Kabar yang Mengguncang*
Di Singapura, dokter memeriksa J dengan sangat teliti. Setelah cukup lama, dokter berkata dengan nada prihatin:
“There is a problem… The tube was installed incorrectly.”
(Tube-nya terpasang terbalik.)
Kalimat itu menghantam kami seperti petir. Tube yang seharusnya membantu aliran air mata, justru menghalangi aliran air mata masuk karena posisinya terbalik.
Dokter juga mengatakan bahwa kornea J robek.
Solusinya? Tube harus dicabut dan dipasang ulang dalam posisi yang benar, dan harus dibiarkan minimal enam bulan agar saluran baru bisa terbentuk.
Y langsung menangis sesenggukan, napasnya tersengal karena asmanya mulai kambuh. Saya pun tak kuat menahan air mata. Rasanya seperti beban besar menindih dada kami.
*Malam Sebelum Operasi: Suara Roh Kudus*
Malam sebelum operasi kedua, kami berkumpul dan berdoa. Kami menangis di hadapan Elohim, memohon belas kasihan-Nya.
Di tengah doa, tiba-tiba Roh Kudus berbicara dalam hati saya. Suaranya lembut, tetapi sangat jelas.
“Percaya kepada mujizat-Ku. Cucu mu tidak perlu dipasang tube.”
Saya tersentak. Kata-kata itu seperti cahaya yang menembus kegelapan hati saya.
Saya mendekati Y dan berkata, “Tadi Roh Kudus berbicara dalam hati Mama… J tidak perlu dipasang tube lagi. Elohim akan bekerja.”
Namun Y menggeleng kuat. Dengan mata bengkak, ia berkata, “Tidak mungkin, Ma… Dokter sudah periksa. Sudah pasti harus dipasang. Salurannya rusak.”
Saya mengerti reaksinya—seorang ibu yang ketakutan kehilangan kesehatan anaknya.
Tetapi suara Roh Kudus dalam hati saya terlalu kuat untuk saya abaikan.
*Pagi Operasi: Mujizat Itu Terjadi*
Keesokan paginya, J dibawa ke ruang persiapan operasi. Dokter melakukan pemeriksaan terakhir sebelum masuk kamar operasi.
Kami menunggu. Setiap detik terasa seperti jam. Perasaan kami campur aduk—takut, gelisah, berharap.
Setengah jam berlalu.
Tiba-tiba dokter datang, wajahnya tampak heran bercampur takjub. Ia berkata sambil menahan senyum:
*"It’s miracle… amazing! Saluran air matanya sudah terbentuk dengan sempurna. Ia tidak perlu pasang tube lagi.”*
Saya dan Y langsung menangis—kali ini air mata sukacita. Lutut rasanya lemas.
Apa yang Roh Kudus firmankan malam sebelumnya, digenapi pagi itu.
Cucu saya disembuhkan. Tanpa operasi. Tanpa tube. Saluran air matanya terbentuk sempurna.
*Saat Ini: Bukti Bahwa Mujizat Itu Nyata*
Hari ini, J sudah berusia 13 tahun. Ia rutin kontrol. Tak ada masalah. Kornea sembuh. Saluran air mata normal. Penglihatannya baik.
Setiap kali saya melihatnya berlari, tersenyum, dan bermain seperti anak-anak lain, saya hanya bisa berkata:
*“Terima kasih, Yeshua… Engkau sungguh Elohim yang hidup.”*
Kesaksian ini saya bagikan bukan untuk memuliakan manusia, tetapi untuk menyatakan kuasa dan kasih Elohim. Jika Elohim sanggup menyembuhkan J, Ia juga sanggup memulihkan siapa pun yang percaya.
Segala pujian, hormat, dan kemuliaan hanya bagi Yeshua HaMashiach. Amen.
Kesaksian Pribadi Ibu LG, Bandung
Penyunting : rt / rgy
