AESENNEWS.COM, BOGOR- Suatu hari, seseorang naik kereta jarak jauh. Ia duduk di kursi biasa—tidak terlalu empuk, tidak terlalu luas. Di depannya, ia melihat penumpang lain duduk di kelas eksekutif: kursinya lebar, bisa direbahkan, disuguhi makanan hangat, bahkan bisa tidur dengan nyaman.
Dalam hati ia sempat berpikir,
“Enak sekali ya hidup mereka…”
Namun kemudian ia tersadar:
kenyamanan itu ada harganya.
Dan setiap orang memilih apa yang ingin ia bayar.
Sejak saat itu ia mulai berpikir—
dalam hidup ini, apa yang sebenarnya sedang aku kejar?
Kisah ini mengingatkan kita pada peristiwa dalam Kitab 2 Raja-raja 11:1–20.
Seorang wanita bernama Atalya, demi mempertahankan kekuasaan dan kenyamanannya sebagai ratu, melakukan sesuatu yang sangat kejam—ia membinasakan keturunannya sendiri. Demi tetap berada di posisi “aman” dan “nyaman”, ia rela mengorbankan apa pun.
Namun di tengah kegelapan itu, Tuhan tetap bekerja. Seorang anak bernama Yoas diselamatkan secara diam-diam. Rencana Tuhan tidak pernah gagal, sekalipun manusia memilih jalan yang salah.
Inilah bahayanya ketika kenyamanan mulai menjadi berhala.
Berhala bukan selalu patung.
Berhala bisa berupa apa pun yang kita utamakan lebih dari Tuhan.
Bisa itu:
rasa aman
kenyamanan hidup
posisi atau jabatan
atau kehidupan yang “tidak mau repot”
Saat itu terjadi, kita mulai:
menghindari kebenaran karena terasa tidak nyaman
kompromi dengan dosa
memilih jalan mudah daripada jalan benar
Tanpa sadar, hati kita mulai menjauh.
Yeshua mengingatkan dalam Injil Matius 6:19–20:
Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi… tetapi kumpulkanlah harta di surga.
Artinya jelas:
tidak semua yang membuat kita nyaman itu berasal dari Tuhan,
dan tidak semua yang dari Tuhan akan terasa nyaman.
Hari ini, mungkin kita tidak seperti Atalya.
Tetapi pertanyaannya:
👉 Apakah kita sedang menjadikan kenyamanan sebagai “tuhan kecil” dalam hidup kita?
Jangan sampai demi hidup yang nyaman, kita kehilangan hidup yang benar.
Karena pada akhirnya, kenyamanan dunia hanya sementara—
tetapi Tuhan adalah kekal.
Doa singkat:
Bapa YHWH, ampuni jika selama ini aku lebih mengejar kenyamanan daripada Engkau. Tolong aku untuk tetap memilih kebenaran, sekalipun tidak mudah. Bentuk hatiku agar Engkau tetap menjadi yang terutama. Dalam nama Yeshua, amin.
(rt / rgy)
